Kamis, 07 Januari 2010

MENGUAK JATI DIRI


Diam…..!! tolong diamlah sejenak ! aku mendengar suara gemuruh perlahan mulai mendekat kemari, simaklah dan resapi, akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat ini. Diam…!!

Disini ditempat ini aku hentikan langkah kaki ditempatku membujur kaku dan mati esok nanti, aku terjaga hendak membangunkan kalian semua dari tidur panjangmu dan keasyikanmu melalaikan mati, jangan teriak, terkejut atau kau sumpahi aku dengan caci maki, ketahuilah disini nanti tempatmu terakhir setelah kefanaan hidup yang telah kau jalani, kemari kalian semua duduk bersila disebelahku, tundukkan kepala dan buang egomu, betapa tak berdayanya kau saat maut menghampiri tanpa pernah kau sadari nanti.

Disini ditempat ini aku semua yang kau miliki tiada bermakna dan mempunyai nilai lagi, temanmu adalah amalmu, bekalmu adalah ilmumu dan cahayamu adalah doa – doa mereka untukmu, lebih dan kurangnya itu kau hanya jasad yang membusuk diremuk waktu, dimakan belatung dan cacing tanah. Mulutmu membisu sedangkan mata, telinga, tangan dan kakimu bersaksi untukmu, Disini ditempat ini kau akan tahu apa siksa untukmu dan pahala gajaranmu.


Disini ditempat ini aku dan dua nisan menuliskan tanggal lahir dan kematianmu sedangkan kafan menyelimuti dari ketelanjanganmu, dinding rumahmu ini dari tanah basah atapmu dari kayu, apalagi yang hendak aku sombongkan jika kau tahu akan jadi bagian dari itu, Disini ditempat ini mari kita menguak jati diri.

Disini ditempat ini aku kau bertemu makhluk-makhluk yang asing dan tak pernah kau jumpai dimuka bumi, telingamu mendengar suara – suara yang tak pernah kau dengar sebelumnya , hidungmu mencium aroma yang senada, Disini ditempat ini mari sejenak merenungi kepastian datangnya mati…. Lelah itu akan berujung peristirahatan dan perjuangan perjuangan akan berujung kemenangan, pengorbanan akan diganti dengan imbalan sedangkan kepahitan akan menuai kebahagiaan, lalu kenapa kamu masih memperhatikan wajah kesedihan…..? disini si tempat ini bila kau sadar masuk dan bermukim menempati hingga hari akhir nanti ucapanku akan kau buktikan sendiri. Disini ditempat ini aku jika kau masih belum tejaga untuk merenung dan menghayati maka rasakan sendiri apa yang akan terjadi nanti.

Disini ditempat ini aku ingin bertutur lewat sajak dan syair ini, biar dia lincah menari menasehati diri selama nafas masih kuhela di muka bumi, biar syair sajak dan syair ini menjadi nasehatku ketika aku jatuh dan mulai lelah dari hakikat diri, menjadi cambuk yang mendera jasadku bila kau masih menegur dan berbincang dengan nafsuku, di sini ditempat ini aku ingin menguak jati diri.

J I K A A K U

Jika aku kau tandai sebagai debu dalam album kehidupanmu, begitulah aku…. Aku tak akan mengkritik atau mencelamu, aku akan lebih diam dengan kebisuanku, bahkan jikalau dewa dewa pun memandang sebelah mata padaku, itu semua tak membuatku bernyanyi lagu sendu pilu atau haru, karena aku sedang mengkoreksi perbuatanku, mensekors malaikat di lengan kiriku mencatat keburukan keburukanku.

Jika aku kau timpali caci maki dan sumpah serapahmu, lanturkan sajalah itu semua padaku, buat itu menjadi irama beriringan dan bersahutan, naikan dari irama rendah ke irama minor, aku takkan membalas cacian dan celaanmu, aku akan lebih diam dengan keheninganku, bahkan setahuku jarum waktu pun berlari maju tanpa sepatah kata padaku, tapi aku takkan terkekang jeruji amarah dan egoku, karena aku sedang sibuk menyemai benih – benih kasih dan sayangku.

Jika aku kau ludahi dan kau gunjing di belakangku, lakukan sajalah itu semua padaku, fitnah dan kejelekan mereka padaku tak merubah nilai nilai cinta di hatiku, aku kan biarkan kamu dengan segalanya itu yang kau perbuat padaku, bahkan bintang bintang pun lebih tau segala hal di banding aku, karna aku sedang merenung dan berfikir tentang hakikat jati diriku, karena aku sedang memasukkan benang kelubang jarum untuk menyulam bunga rampai budi budi luhur.

Satu satu daun jatuh itu akan mengering berubah menjadi unsur hara di serap tanah di serap akar, pohon akan tumbuh menjadi besar dan semakin tinggi, jika burung pelatuk melubangi, rayap rayap menggerogoti itu bukan hal yang asing lagi, karena kelak suatu saat nanti pohon akan tua layu dan mati, atau mungkin kilat menyambar membakar menjadikannya arang, menjadikannya fosil.

Ketahuilah satu satu kebenaran akan terkuak, kebaikan akan berbalas, pahit getir menjadi manis, air mata menjadi tawa, kesedihan menjadi canda, akal hatidan fikiran akan tumbuh semakin dewasa dan bijaksana, jika fitnah benci dan kontroversi masih sering menghampiri, anggap itu penguat diri, kajian dan bahan introspeksi, agar hati selalu damai dalam ketetapan Yang Maha Suci.

Tanganku mengepal sembunyikan amal juga untuk memukul nafsu yang liar dan binal, tangan ku merekah membagi berkah mengusap hati yang tenang agar senantiasa berpasrah, ingin jumpai dan sapa diriku saat berubah nanti, jidat mnghitam dan kaki yang berubah lebam karena ibadah, tangis dan doa menghias malam malam yang indah, oh…. Penguasa alam dunia dan alam barzah. Ziarahi aku yang sedang gundah tak tahu tujuan kehilangan arah, aku berharap akhir yang indah, masa depan yang cerah dan mati khusnul khotimah.

Kakiku berdiri mengkebiri emosi juga untuk menendang iri tamak dan dengki, kakiku berlari menghendak silih berganti mencari hikmah mengais wasiat petunjuk dan hasanah dari para