Kamis, 07 Januari 2010

MENGUAK JATI DIRI


Diam…..!! tolong diamlah sejenak ! aku mendengar suara gemuruh perlahan mulai mendekat kemari, simaklah dan resapi, akan ada sesuatu yang terjadi dalam waktu dekat ini. Diam…!!

Disini ditempat ini aku hentikan langkah kaki ditempatku membujur kaku dan mati esok nanti, aku terjaga hendak membangunkan kalian semua dari tidur panjangmu dan keasyikanmu melalaikan mati, jangan teriak, terkejut atau kau sumpahi aku dengan caci maki, ketahuilah disini nanti tempatmu terakhir setelah kefanaan hidup yang telah kau jalani, kemari kalian semua duduk bersila disebelahku, tundukkan kepala dan buang egomu, betapa tak berdayanya kau saat maut menghampiri tanpa pernah kau sadari nanti.

Disini ditempat ini aku semua yang kau miliki tiada bermakna dan mempunyai nilai lagi, temanmu adalah amalmu, bekalmu adalah ilmumu dan cahayamu adalah doa – doa mereka untukmu, lebih dan kurangnya itu kau hanya jasad yang membusuk diremuk waktu, dimakan belatung dan cacing tanah. Mulutmu membisu sedangkan mata, telinga, tangan dan kakimu bersaksi untukmu, Disini ditempat ini kau akan tahu apa siksa untukmu dan pahala gajaranmu.


Disini ditempat ini aku dan dua nisan menuliskan tanggal lahir dan kematianmu sedangkan kafan menyelimuti dari ketelanjanganmu, dinding rumahmu ini dari tanah basah atapmu dari kayu, apalagi yang hendak aku sombongkan jika kau tahu akan jadi bagian dari itu, Disini ditempat ini mari kita menguak jati diri.

Disini ditempat ini aku kau bertemu makhluk-makhluk yang asing dan tak pernah kau jumpai dimuka bumi, telingamu mendengar suara – suara yang tak pernah kau dengar sebelumnya , hidungmu mencium aroma yang senada, Disini ditempat ini mari sejenak merenungi kepastian datangnya mati…. Lelah itu akan berujung peristirahatan dan perjuangan perjuangan akan berujung kemenangan, pengorbanan akan diganti dengan imbalan sedangkan kepahitan akan menuai kebahagiaan, lalu kenapa kamu masih memperhatikan wajah kesedihan…..? disini si tempat ini bila kau sadar masuk dan bermukim menempati hingga hari akhir nanti ucapanku akan kau buktikan sendiri. Disini ditempat ini aku jika kau masih belum tejaga untuk merenung dan menghayati maka rasakan sendiri apa yang akan terjadi nanti.

Disini ditempat ini aku ingin bertutur lewat sajak dan syair ini, biar dia lincah menari menasehati diri selama nafas masih kuhela di muka bumi, biar syair sajak dan syair ini menjadi nasehatku ketika aku jatuh dan mulai lelah dari hakikat diri, menjadi cambuk yang mendera jasadku bila kau masih menegur dan berbincang dengan nafsuku, di sini ditempat ini aku ingin menguak jati diri.

J I K A A K U

Jika aku kau tandai sebagai debu dalam album kehidupanmu, begitulah aku…. Aku tak akan mengkritik atau mencelamu, aku akan lebih diam dengan kebisuanku, bahkan jikalau dewa dewa pun memandang sebelah mata padaku, itu semua tak membuatku bernyanyi lagu sendu pilu atau haru, karena aku sedang mengkoreksi perbuatanku, mensekors malaikat di lengan kiriku mencatat keburukan keburukanku.

Jika aku kau timpali caci maki dan sumpah serapahmu, lanturkan sajalah itu semua padaku, buat itu menjadi irama beriringan dan bersahutan, naikan dari irama rendah ke irama minor, aku takkan membalas cacian dan celaanmu, aku akan lebih diam dengan keheninganku, bahkan setahuku jarum waktu pun berlari maju tanpa sepatah kata padaku, tapi aku takkan terkekang jeruji amarah dan egoku, karena aku sedang sibuk menyemai benih – benih kasih dan sayangku.

Jika aku kau ludahi dan kau gunjing di belakangku, lakukan sajalah itu semua padaku, fitnah dan kejelekan mereka padaku tak merubah nilai nilai cinta di hatiku, aku kan biarkan kamu dengan segalanya itu yang kau perbuat padaku, bahkan bintang bintang pun lebih tau segala hal di banding aku, karna aku sedang merenung dan berfikir tentang hakikat jati diriku, karena aku sedang memasukkan benang kelubang jarum untuk menyulam bunga rampai budi budi luhur.

Satu satu daun jatuh itu akan mengering berubah menjadi unsur hara di serap tanah di serap akar, pohon akan tumbuh menjadi besar dan semakin tinggi, jika burung pelatuk melubangi, rayap rayap menggerogoti itu bukan hal yang asing lagi, karena kelak suatu saat nanti pohon akan tua layu dan mati, atau mungkin kilat menyambar membakar menjadikannya arang, menjadikannya fosil.

Ketahuilah satu satu kebenaran akan terkuak, kebaikan akan berbalas, pahit getir menjadi manis, air mata menjadi tawa, kesedihan menjadi canda, akal hatidan fikiran akan tumbuh semakin dewasa dan bijaksana, jika fitnah benci dan kontroversi masih sering menghampiri, anggap itu penguat diri, kajian dan bahan introspeksi, agar hati selalu damai dalam ketetapan Yang Maha Suci.

Tanganku mengepal sembunyikan amal juga untuk memukul nafsu yang liar dan binal, tangan ku merekah membagi berkah mengusap hati yang tenang agar senantiasa berpasrah, ingin jumpai dan sapa diriku saat berubah nanti, jidat mnghitam dan kaki yang berubah lebam karena ibadah, tangis dan doa menghias malam malam yang indah, oh…. Penguasa alam dunia dan alam barzah. Ziarahi aku yang sedang gundah tak tahu tujuan kehilangan arah, aku berharap akhir yang indah, masa depan yang cerah dan mati khusnul khotimah.

Kakiku berdiri mengkebiri emosi juga untuk menendang iri tamak dan dengki, kakiku berlari menghendak silih berganti mencari hikmah mengais wasiat petunjuk dan hasanah dari para

Minggu, 16 Agustus 2009

Karya - Karya Rumi


SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.
JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.




EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH

Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, "Aku akan membeli anggur."
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, "Tidak, karena aku ingin inab."
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, "Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum."
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, "Aku ingin stafil."
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, "Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu."
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.








AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, "Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja." Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, "Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita."


DIMENSI LAIN

Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus --
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, "Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga..."
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
"Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!"
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?
REALITAS SEJATI
Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi -- Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah -- dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita --
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada 'Kau' atau 'Aku',
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita --
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini ...
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan --
Kau dan Aku.
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.

AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat --
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada 'dosa' atau 'kebaikan'?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan - Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
"Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini."
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
TINDAKAN DAN KATA-KATA
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu -- kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.

RUMAH

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan."
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.

BURUNG HANTU

Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar

UPAYA

Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.

PENCARIAN

Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.

TUGAS INI

Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.

KOMUNITAS CINTA

Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya Paduka."
Ia berkata, "Kenapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa."
Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa-- yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah --sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.
Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya."
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.

WAFAT

Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan, "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut, "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit."
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.

TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI

Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
"Kepada Nya, kita semua akan kembali"
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia in ataupun dari akhirat, bukan dari Sorga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu" dan "Ya man Hu"
Aku mabok oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabok gila-gilaan
Kalau sekali saja aku semenit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabok dan gila-gilaan.

Jalaludin Rumi


Jalaludin Rumi

'''Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri''' ('''Jalaluddin Rumi''') atau sering pula disebut dengan nama '''Rumi''' adalah seorang sufi|penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berju
PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi juga, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset.
Masa kecil Rumi, adalah masa pendidikan keras yang diterimanya. Ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang kaku, selain Qur'an, hadits, fiqh, tafsir dan filsafat ia tak mau mempelajarinya. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang yang merubah hidupnya. Syamsi Tabriz, seorang sufi yang dengan tenang pernah membuang buku-buku filsafat Rumi ke dalam sumur. "Buku ini sangat rumit dan sulit dipahami," katanya sambil melempar buku-buku tebal Rumi ke dasar sumur.
Kontan saja, Rumi marah besar dibuatnya dan mengatakan betapa besar kerugian akan peristiwa itu. Tapi Syamsi, masih tenang. Tak banyak bicara ia menarik keluar buku-buku Rumi. Ajaib, semuanya utuh tak basah meski hanya selembar saja. Peristiwa itulah yang membuat Rumi memohon untuk menjadi murid Syamsi.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing --yakni Syamsi Tabriz-- ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya."
Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Selain menulis puisi, Syamsi Tabriz, mendiang gurunya itu mengenalkan pula kepada Rumi tarian religi yang biasa di sebut Sama'. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para darwis, orang-orang yang mempelajari ajaran sufi. Kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki.
Tarian ini melambangkan kebebasan manusia untuk bertemu Tuhannya. Para penari memakai baju putih dengan bagian bawah yang lebar, seperti rok panjang. Asesoris lain adalah turbus sewarna yang menjulang di atas kepala. Mereka berputar, pertama membaca al Fatiha, kian lama kian cepat putaran mereka. Kemudian hanya kalimat Allah, Allah, Allah saja yang terdengar nyaris seperti dengungan lebah.
Kini, meski bukan Rumi yang melakukan tarian ini untuk pertama kali, tapi Sama' nyaris identik dengan Rumi. Jalaludin Rumi, dalam pengasingan dirinya menuangkan puisi-puisi jiwayang lahir dari hubungan saat beribadah. Tak heran jika membaca puisi Rumi, seakan menemukan kesejukan tersendiri karena puisinya lahir dari dasar hati.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

== Karya ==
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama [[al-Matsnawi al-Maknawi]] konon adalah sebuah revolusi terhadap [[Ilmu Kalam]] yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa [[Tuhan]], sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal [[Yusuf]], [[Musa]], [[Yakub]], [[Isa]] dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai [[ma'rifat]]. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.
Pilihan-pilihan berikut ini, diambil dari semua sumber tersebut, bertema meditasi yang dapat diambil sebagai aforisme dan deklarasi dogma, atau sepotong nasihat guru. Penggunaan kata-kata Sufistik mereka, berlangsung terus. Ar-Rumi, seperti penulis Sufi lain, menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman tersebut.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: "Yang ada di dalam ada di dalam" ("Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu").
Ar-Rumi memiliki kegelisahan Sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya, dan terus menerus menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian.

Alam Rasa


- Syahdan malam itu aku berjalan memasuki alam perasaan, dimana dewa-dewa termanifestasi dalam pikiran, hidup dialam kenyataan, semua mempunyai raga dan kegiatan, semua bergerak sesuai dengan keadaan. Brahma, shiwa, wishnu. Ares, hera dan zeus, ternisbahlah terwujudlah.
- Memasuki gerbang utamanya yang bermaterial sesuatu yang belum terlihat mata sebelumnya, bukan batu bukan sedimen, bukan wujud bukan sinar dan belum ada abjad yang bisa mendeskripsikannya, tapi alam ini telah terjelajahi hampir setiap insan yang bernyawa, alam ini dikendalikan situasi yang mengatur setiap warna dan alur cerita, situasi kali ini adalah situasi “abu-graib penjara asa”
- Kuketuk pintu kucapkan salam dan sapa pada penghuni didalamnya, wishnu membuka pelahan dan mempersilahkanku masuk, halus santun tuturnya bercampur sopan budinya membuatku nyaman masuk kedalamnya, kunikmati setiap hiasan yang terpampang dan tepajang di dinding, lantai dan atapnya, bola mataku mulai menerawang ke awang-awang, inikah perasaan…?
- Setalah tertegun dan asyik ku bercumbu dengan kekaguman, Shiwa dengan bengisnya menyapaku tak bersahabat seolah ingin melenyapkan-ku malam ini, datang membawa trisula di tangan kanannya, sorot matanya tajam mengeluarkan kilat, suaranya menggelegar seperti gemuruh yang menggelegar, raut mukanya merah darah, aku berguman dalam hati “aku tak pernah bermasalah dengannya kenapa dia hendak melenyapkanku ?”. aku takut berlari setengah mati berusaha menyelamatkan diri darinya namun dia mengikuti langkahku seolah sedang asyik berburu, aku yang lemah ini pun akhirnya tertangkap olehnya dan di siksa disini di abu-graib penjara asa, aku di sayat dengan pedang “kecemburuan” yang tajamnya merobek urat – urat tubuhku aku menjerit, menangis kesakitan tapi tak didengar apalagi di hiraukan, seolah belum puas dia melanjutkan dengan cambukan “amarah”, aku diam mengatupkan bibirku dan merapatkan gigi ketika dia lecutkan cemeti itu di punggungku, sakitnya aku tahan sampai terasa ke ulu hatiku namun ku-harus tetap hidup dalam kesadaran akal-ku. Pukulan – pukulan godam “terasingkan” telak di arahkan muka dan perutku, malam ini akupun lebam dan hancur. Aku hanya tersisa nafas……..
- Aku tahu Brahma sedang menyaksikanku, dan aku pun mengerti dia punya sesuatu sesuatu untukku yang masih disembunyikan, dia menciptakan alur yang bercampur berdiri ditengah dan tidak memihak, sebelum beranjak dia memulihkan keadaanku sejenak agar aku setidaknya mampu berdiri dan berlari….
- Selang waktu berganti dari jam yang menindih menit, aku berkelit di bawah dingin suhu ruangan yang menyusupi pori-poriku, ku menutup mataku bukan karena aku mengantuk, tapi ku menghindar sesuatu yang bisa membuatku terluka. Sejenak ku menutup mata aku bertemu Ares dan Hera, aku jumpai dia, Ares menabuh genderang perang menyeru ke barisan serdadunya untuk menyerang pikiranku, serentak tiga ratus ribu pasukan-nya yang berlari, berkuda dan diatas gajah menuju menyerangku, aku yang sejenak jernih malam itu menjadi selalu berprasangka buruk dan gerah akan segala sesuatu, Hera pun melirik dari langit hendak meyusup dan menghidupkan arwah kebencian di sanubariku, aku mulai sadar ketika mentari di alam rasa mulai redup dari keadaan biasanya, Hera tiupkan nafasnya yang beraura negatif dan tersentuhlah nafas itu di dadaku. Aku jadi benci akan segala sesuatu, malam itu semuanya ingin kutinggalkan, kulupakan dan ku akhiri seketika, tiba-tiba Zeus menampar telak keras sekali di pipi “plak…!!! (bunyinya keras sekali)”, di pegang kepalaku dengan kedua tangan besarnya itu, diarahkan mataku ke matanya, lalu berkata “Sadarlah manusia!!”, “jangan mabuk dengan buaian Hera, lawan Ares dengan kekuatanmu meski kau tak temui lagi harimu esok”.
- “Kau kesatria dengan jiwa yang gagah perkasa, kau telah memasuki alam rasa, kau harus bisa keluar dari sini dengan tanpa terluka, karna jika kau terluka disini maka akan membekas lama di alam nyata”. Serentak aku buka kedua mata, ternyata benar hatiku telah terluka terkena anak panah Ares di Alam Rasa, aku kesakitan sampai terbisu dari ucapan.
- Apa ini….? Aku benar-benar tak mengerti, kekuatan Alam Rasa timbul dari satu perkara yang terintegrasi dari situasi sekarang aku alami, aku biarkan diriku masuk dan timbulah kejadian ini hingga timbul luka dan membekas lama. Semua karena aku terlalu memuja dan menghamba pada sebuah perkara hingga akhirnya ak terhanyut didalamnya. Inilah aku kaum manusia biasa yang tak kuasa dan tak berdaya apa-apa, berjalan diatas takdir pun aku masih perlu dipapah apalagi berlari merubah nasib.

Larantuka


- Larantuka ternisbah dari prahara dari dalam relung jiwa, membawa buih – buih duka menciptakan selaksa lara melelehkan airmata, semua tercipta karna sebuah pengharapan pada sesuatu yang maya, sebuah transisi semu menuju nafas terakhirku. Apa yang tersirat ini bukanlah, hukuman, ujian atau karma, Dia sangat sayang pada umatNYA semoga tak pernah terlintas di benakku rasa buruk sangka (suuzon) padaNYA, astaghfirullah hal azim…………………
- Dalam kesunyian yang menghujam kuharapkan setitik embun menetes di tanah-tanah hatiku ini, kening menjadi cangkulku setiap hari agar kelak sebuah benih kan tumbuh disini, kan kusiram dengan peluh serta air mata, ku pupuk dengan lapar (berpuasa), pagi siang sore dan malam kurawat dengan tasbih dan zikir, biar butir-butir kesabaran dan cuaca keikhlasan menjadikan sebuah tanaman pengharapan.


- Ya allah ya tuhan……….. apa ini? Ini adalah pohon surga di tingkat ketiga, dan ini adalah cabang tunasnya yang merambah ditanah dunia, semula aku kan menduga kan tumbuh mawar, anggrek atau kamboja, ternyata pohon ini melampaui apa yang kuduga, kusangka, ku kira.
- Waktu tak bersahabat kali ini denganku….dia membawa keadan dilema kedalam kehidupanku, aku penyair lemah lunglai tak berdaya melawan lajunya yang perlahan namun pasti menenggelamkanku, sakitnya terasa seperti ruh telah sampai tenggorokan, pelahan naik hendak pergi ucapkan salam dengan jiwaku semu serta ucapkan salam pamit perpisahan. Pohon surga menindih dan merambah lahan-lahan disekitarnya, menancapkan akrnya dalam dan menghujam, sementara waktu mengikatku dengan belenggu, mulutku terkatup rapat nafasku terengah seperti kuda pacu dan banyak hal telah berubah ketika dia mencengkeram asaku.
- Selalu aku membeku dalam suhu derajad terendahku menekan amarah dan hawa nafsu, karna disekitarku banyak bara yang membakar aku tak mau lemah menjadi akar, semak dan belukar.
- Larantuka, kucari kebersahajaan hidup dengan menanam cinta bersama benih-benih kasih yang tertiup angin, menuju kelopak bunga, hinggap di dahan dan ranting, oh tidak…… aku ini ternyata masih seperti lilin kecil yang menyala di tangah sahara, cahayaku tak menyinari sekitarku dalam jarak yang luas, justru tubuhku meleleh dan terbakar menjadi asap dan abu, tuk jadi seekor kunang-kunang pun belum sanggup kulakukan itu.
- Sudahlah….. kau tak tahu menahu tentang semua perkara itu, hentikanlah semua bualanmu itu, kau itu tak ubah dan tak ayalnya sebuah batu didasar sungai, diam tak terjamah dan terambah, terkikis oleh arus “KEAKUAN”, fosilisasi jiwa menjadi intan berlian. Kelak cahayamu kan tampak kepermukaan dan keindahanmu menjadi pesona mata dan sorotan, tahanlah derasnya arus yang kencang dengan kesabaran, maka kau akan temukan uluran tangan tuhan.
- Larantuka, setelah tumbuh dan berkembang pohon surga, kini apa lagi yang kau rasa? Apa yang hendak aku tanya? Berkaca…. Mari berkaca… tak ada lagi pertanyaan lagi untuk petani cinta sepertimu, memang sudah menjadi tugasmu bercocok tanam dan kepanasan, petani kok mengeluh……..? hama, alam dan rumput liar adalah halang rintangnya, tapi kau pasti bisa memanennya, jika kau tanam dan rawat dengan sempurna.
- Sang pencipta telah merekam dan menyaksikan setiap kejadian yang terjadi, setiap perih dan keringat yang menetes akan terganti oleh sesuatu yang diluar akal dan imajinasi, percayalah akan terjadi hal itu dikemudian hari, tunggulah masa itu masa transisi dimana awan merekah dan mentari bersinar cerah jadilah insan yang istiqomah dan mutmainah..