
- Larantuka ternisbah dari prahara dari dalam relung jiwa, membawa buih – buih duka menciptakan selaksa lara melelehkan airmata, semua tercipta karna sebuah pengharapan pada sesuatu yang maya, sebuah transisi semu menuju nafas terakhirku. Apa yang tersirat ini bukanlah, hukuman, ujian atau karma, Dia sangat sayang pada umatNYA semoga tak pernah terlintas di benakku rasa buruk sangka (suuzon) padaNYA, astaghfirullah hal azim…………………
- Dalam kesunyian yang menghujam kuharapkan setitik embun menetes di tanah-tanah hatiku ini, kening menjadi cangkulku setiap hari agar kelak sebuah benih kan tumbuh disini, kan kusiram dengan peluh serta air mata, ku pupuk dengan lapar (berpuasa), pagi siang sore dan malam kurawat dengan tasbih dan zikir, biar butir-butir kesabaran dan cuaca keikhlasan menjadikan sebuah tanaman pengharapan.
- Ya allah ya tuhan……….. apa ini? Ini adalah pohon surga di tingkat ketiga, dan ini adalah cabang tunasnya yang merambah ditanah dunia, semula aku kan menduga kan tumbuh mawar, anggrek atau kamboja, ternyata pohon ini melampaui apa yang kuduga, kusangka, ku kira.
- Waktu tak bersahabat kali ini denganku….dia membawa keadan dilema kedalam kehidupanku, aku penyair lemah lunglai tak berdaya melawan lajunya yang perlahan namun pasti menenggelamkanku, sakitnya terasa seperti ruh telah sampai tenggorokan, pelahan naik hendak pergi ucapkan salam dengan jiwaku semu serta ucapkan salam pamit perpisahan. Pohon surga menindih dan merambah lahan-lahan disekitarnya, menancapkan akrnya dalam dan menghujam, sementara waktu mengikatku dengan belenggu, mulutku terkatup rapat nafasku terengah seperti kuda pacu dan banyak hal telah berubah ketika dia mencengkeram asaku.
- Selalu aku membeku dalam suhu derajad terendahku menekan amarah dan hawa nafsu, karna disekitarku banyak bara yang membakar aku tak mau lemah menjadi akar, semak dan belukar.
- Larantuka, kucari kebersahajaan hidup dengan menanam cinta bersama benih-benih kasih yang tertiup angin, menuju kelopak bunga, hinggap di dahan dan ranting, oh tidak…… aku ini ternyata masih seperti lilin kecil yang menyala di tangah sahara, cahayaku tak menyinari sekitarku dalam jarak yang luas, justru tubuhku meleleh dan terbakar menjadi asap dan abu, tuk jadi seekor kunang-kunang pun belum sanggup kulakukan itu.
- Sudahlah….. kau tak tahu menahu tentang semua perkara itu, hentikanlah semua bualanmu itu, kau itu tak ubah dan tak ayalnya sebuah batu didasar sungai, diam tak terjamah dan terambah, terkikis oleh arus “KEAKUAN”, fosilisasi jiwa menjadi intan berlian. Kelak cahayamu kan tampak kepermukaan dan keindahanmu menjadi pesona mata dan sorotan, tahanlah derasnya arus yang kencang dengan kesabaran, maka kau akan temukan uluran tangan tuhan.
- Larantuka, setelah tumbuh dan berkembang pohon surga, kini apa lagi yang kau rasa? Apa yang hendak aku tanya? Berkaca…. Mari berkaca… tak ada lagi pertanyaan lagi untuk petani cinta sepertimu, memang sudah menjadi tugasmu bercocok tanam dan kepanasan, petani kok mengeluh……..? hama, alam dan rumput liar adalah halang rintangnya, tapi kau pasti bisa memanennya, jika kau tanam dan rawat dengan sempurna.
- Sang pencipta telah merekam dan menyaksikan setiap kejadian yang terjadi, setiap perih dan keringat yang menetes akan terganti oleh sesuatu yang diluar akal dan imajinasi, percayalah akan terjadi hal itu dikemudian hari, tunggulah masa itu masa transisi dimana awan merekah dan mentari bersinar cerah jadilah insan yang istiqomah dan mutmainah..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar