
- Sajak dan syair belum mau berhenti kutorehkan diatas lembaran-lembaran ini, terus mengalir menanti sebuah akhir perjalanan hidup “Maulana al-fakir” , ekstase jiwa dalam sakramen-sakramen hati terpecah dan berpendar bercabang pada pesona burung merak yang keluar elok dari pintu taman surga di tingkat ketiga, membius dan membuai panca indra, menutupi dengan kabut dan menciptakan fatamorgana.
- Aura pikat terpancar dengan sangat kuat mengubah warna sel-sel syaraf dan kelenjar otak kecilku, memikat dan menawarkan asa dengan kekuatan yang maha dahsyat, semoga belum terlambat sebelum hujan mengguyur lebat aku akan melangkahkan kakiku ke arah barat.
- Bejalan telanjang kaki ini menginjak pasir batu dan kerikil, gurun, gunung, ngarai, lembah dan sungai kecil, semua telah kuhafal dengan tartil, di perjalananku ini aku hanya membawa bekal fatwa dan wasiat, status harta aku bergelar mlarat namun memiliki keyakinan dan tujuan untuk dapat makrifat (mengenal allah), meskipun kadang lumut dan air sering membuatku tergelincir, matahari masih melengkingkan senyum manisnya menghangatkanku hingga nafas terakhir.
- Burung merak muncul kala senja menghias langit belahan barat, seolah mengikuti perjalananku namun ia berjalan di depan langkahku, tersibak megar dengan indahnya bulu-bulu elok penuh warna ynag mempesona itu, dari atas kepala tubuh dan ekornya, redup senyuman sang surya kala itu menyapa menambah ia semakin bercahaya. Saat aku menunduk mengaisi bulu-bulu yang jatuh dari badannya tersibaklah sebuah rahasia dari hatiku, yang telah diketahui oleh angin yang terbang ke arah barat, apakah burung merak bisa mendengar angin yang berbisik, sungguh aku sempat menghawatirkan akan hal itu.
- Malam datang aku menggigil di kelapnya gurun, rasi bintang yang bercahaya di langit utara seolah menyapa hendak menemani jiwa yang menggerutu, tentang tingkah laku sang waktu, waktu yang terus berjalan maju membuat ruh-ruh di dalam kalbuku terus berpacu letih kecapaian, lalu cahaya purnama menegur dan bertanya padaku, “hai insan yang menggigil kedinginan, tak hanya ruh engkau yang lelah berpacu, coba lihatlah raut muka ragamu itu? Karna peluh pun mengucur deras dari kening hitammu, bangun dan berjalanlah tak mengapa kau teteskan air mata itu, kita akan bersaksi atasmu di hadirat Illahi Rabbi”
- Ego seperti hantu yang memeluk di balik alam nyata, bisikannya seolah rayap menggerogoti pasak dan tiang akalku, meremuk dan menjadikan bubuk angan dan hayalan semu, memakan saripati keyakinan dan meninggalkan racun ketakutan yang terkadang menjalar di aliran darahku.
- Mimpi seperti bubuk opium yang tehela menjadi candu di otaku, efeknya yang menghilangkan kesadaranku menagih dan meminta dirinya menjadi sentuhan kenyataan dan memberikan obat “Harapan”. Serta permohonan yang terkadang meneteskan air mata doaku.
- Burung merak dihatiku berjalanlah didepanku, jika bulu-bulu itu jatuh dari ragamu kan ku kais ku kumpulkan dalam tasku agar tersimpan bersama bekalku, dan tercatat di lembaran buku amal perbuatanku (lauhul mahfudz).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar