
- Syahdan malam itu aku berjalan memasuki alam perasaan, dimana dewa-dewa termanifestasi dalam pikiran, hidup dialam kenyataan, semua mempunyai raga dan kegiatan, semua bergerak sesuai dengan keadaan. Brahma, shiwa, wishnu. Ares, hera dan zeus, ternisbahlah terwujudlah.
- Memasuki gerbang utamanya yang bermaterial sesuatu yang belum terlihat mata sebelumnya, bukan batu bukan sedimen, bukan wujud bukan sinar dan belum ada abjad yang bisa mendeskripsikannya, tapi alam ini telah terjelajahi hampir setiap insan yang bernyawa, alam ini dikendalikan situasi yang mengatur setiap warna dan alur cerita, situasi kali ini adalah situasi “abu-graib penjara asa”
- Kuketuk pintu kucapkan salam dan sapa pada penghuni didalamnya, wishnu membuka pelahan dan mempersilahkanku masuk, halus santun tuturnya bercampur sopan budinya membuatku nyaman masuk kedalamnya, kunikmati setiap hiasan yang terpampang dan tepajang di dinding, lantai dan atapnya, bola mataku mulai menerawang ke awang-awang, inikah perasaan…?
- Setalah tertegun dan asyik ku bercumbu dengan kekaguman, Shiwa dengan bengisnya menyapaku tak bersahabat seolah ingin melenyapkan-ku malam ini, datang membawa trisula di tangan kanannya, sorot matanya tajam mengeluarkan kilat, suaranya menggelegar seperti gemuruh yang menggelegar, raut mukanya merah darah, aku berguman dalam hati “aku tak pernah bermasalah dengannya kenapa dia hendak melenyapkanku ?”. aku takut berlari setengah mati berusaha menyelamatkan diri darinya namun dia mengikuti langkahku seolah sedang asyik berburu, aku yang lemah ini pun akhirnya tertangkap olehnya dan di siksa disini di abu-graib penjara asa, aku di sayat dengan pedang “kecemburuan” yang tajamnya merobek urat – urat tubuhku aku menjerit, menangis kesakitan tapi tak didengar apalagi di hiraukan, seolah belum puas dia melanjutkan dengan cambukan “amarah”, aku diam mengatupkan bibirku dan merapatkan gigi ketika dia lecutkan cemeti itu di punggungku, sakitnya aku tahan sampai terasa ke ulu hatiku namun ku-harus tetap hidup dalam kesadaran akal-ku. Pukulan – pukulan godam “terasingkan” telak di arahkan muka dan perutku, malam ini akupun lebam dan hancur. Aku hanya tersisa nafas……..
- Aku tahu Brahma sedang menyaksikanku, dan aku pun mengerti dia punya sesuatu sesuatu untukku yang masih disembunyikan, dia menciptakan alur yang bercampur berdiri ditengah dan tidak memihak, sebelum beranjak dia memulihkan keadaanku sejenak agar aku setidaknya mampu berdiri dan berlari….
- Selang waktu berganti dari jam yang menindih menit, aku berkelit di bawah dingin suhu ruangan yang menyusupi pori-poriku, ku menutup mataku bukan karena aku mengantuk, tapi ku menghindar sesuatu yang bisa membuatku terluka. Sejenak ku menutup mata aku bertemu Ares dan Hera, aku jumpai dia, Ares menabuh genderang perang menyeru ke barisan serdadunya untuk menyerang pikiranku, serentak tiga ratus ribu pasukan-nya yang berlari, berkuda dan diatas gajah menuju menyerangku, aku yang sejenak jernih malam itu menjadi selalu berprasangka buruk dan gerah akan segala sesuatu, Hera pun melirik dari langit hendak meyusup dan menghidupkan arwah kebencian di sanubariku, aku mulai sadar ketika mentari di alam rasa mulai redup dari keadaan biasanya, Hera tiupkan nafasnya yang beraura negatif dan tersentuhlah nafas itu di dadaku. Aku jadi benci akan segala sesuatu, malam itu semuanya ingin kutinggalkan, kulupakan dan ku akhiri seketika, tiba-tiba Zeus menampar telak keras sekali di pipi “plak…!!! (bunyinya keras sekali)”, di pegang kepalaku dengan kedua tangan besarnya itu, diarahkan mataku ke matanya, lalu berkata “Sadarlah manusia!!”, “jangan mabuk dengan buaian Hera, lawan Ares dengan kekuatanmu meski kau tak temui lagi harimu esok”.
- “Kau kesatria dengan jiwa yang gagah perkasa, kau telah memasuki alam rasa, kau harus bisa keluar dari sini dengan tanpa terluka, karna jika kau terluka disini maka akan membekas lama di alam nyata”. Serentak aku buka kedua mata, ternyata benar hatiku telah terluka terkena anak panah Ares di Alam Rasa, aku kesakitan sampai terbisu dari ucapan.
- Apa ini….? Aku benar-benar tak mengerti, kekuatan Alam Rasa timbul dari satu perkara yang terintegrasi dari situasi sekarang aku alami, aku biarkan diriku masuk dan timbulah kejadian ini hingga timbul luka dan membekas lama. Semua karena aku terlalu memuja dan menghamba pada sebuah perkara hingga akhirnya ak terhanyut didalamnya. Inilah aku kaum manusia biasa yang tak kuasa dan tak berdaya apa-apa, berjalan diatas takdir pun aku masih perlu dipapah apalagi berlari merubah nasib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar