- Aku menjadi mabuk olehnya ya Allah dan ini adalah karuniaMU, aku merindukan ia ya Allah dan ini adalah rahmatMU, aku menginginkan ia ya Allah dan ini adalah kehendaku, dengan cara apa aku menghadapi ini semua, bagaimana aku harus menyikapinya, kemana perasaan ini seharusnya berada, ya Allah terangilah kebodohanku ini dengan cahayaMU agar aku tahu maksud dan kehendakMU.
- Dia yang kupuja dalam hatiku, dia yang kudambakan slalu, semua tentangnya mampu membiusku, mengunci lidahku membuatku diam membeku hingga sampai urat nadiku.
- Habibah tuhan menciptakan kau sempurna dimataku, berkilau di hatiku, mewangi di relung kalbuku, Dia yang maha sempurna menjadikanmu sebagai pecahan kilat kesempurnaanNYA, aku jadi lemah tak berdaya, karena sampai usiaku sekarang aku belum mengerti hakikat sebenarnya cinta.
- Habibah jika tuhan mengirimmu padaku, ketahuilah beberapa hal; kau akan mengalir seperti darah yang melewati jantungku, kau kan menjadi udara yang mengisi paru-paruku, dan kau kan menjadi cahaya yang menjadikan mataku ini mengindra.
- Habibah aku serahkan keinginanku kepadaNYA, aku tak serahkan ini semua ditangan nafsuku, kesucianmu kan memancarkan keelokan seperti teratai di tepi telaga surga dan jika qudrahNYA telah sampai padaku, aku akan tau jawaban atas pertanyaanku, biarkan aku membeku dalam kediamanku dan biar aku terkunci dalam kebisuanku, serta biarkan aku hangus menjadi abu karena perasaan cintaku padamu.
- Habibah nama dan wujud hakikimu telah mengorbit di susunan galaksi hatiku, disana kau-lah mentarinya yang memberi cahaya pada planet-planet kecil di sekitarnya; otakku, pikiran, naluri, ambisi, harapan, angan-angan dan cita-cita berputar mengelilingimu, kau kan lenyap seiring tercabutnya nyawa dari ragaku karena saat itu tiba aku kan kembali pada penciptamu yang Maha Indah dan Maha Sempurna.
- Habibah kini aku menjadi salah satu dari mereka yang gila karena cinta; aku bagian dari Qais “Majnun” yang memuja Laela, aku bagian dari Sulaiman yang mendamba Balqis, hatiku seperti Alexander yang memuja Cleopatra, karena kini aku bagian dari cinta, aku lebur didalamnya, cinta yang luar biasa dari Yang Maha Pencinta.
- Habibah selamat pagi untukmu.
- Habibah mencintaimu takkan pernah ku sesali seumur hidupku, mencintaimu adalah anugerah terindah sepanjang hidupku, aku tahu apa akibatnya ini semua untuku jika mencintaimu, tapi kupandang itu semua sebagi pemberianNYA untuku, aku jadi semakin dekat padaNYA, tiap malam aku merengek dan menangis teteskan peluhku diatas sajadah untuk berdoa padaNYA, aku menangis bukan karena cinta, aku menangis karena betapa aku menginginkan makhluk ini untuk jadi pendamping hidupku.
- Allah befirman dalam kitabNYA, Rosulullah SAW bersabda dalam hadistnya, ulama’ berfatwa dalam ijma’ dan qiyas mereka, pujangga melantun dalam bait syair dan karyanya, aku bersua dalam kabuku “Anna uhubuka illallah” (aku mencintaimu karena Allah) semua itu terdengar hingga lorong-lorong jiwa, mengalunkan lantunan keseluruh raga hingga tercipta syphony yang bersinergi memberi denyut pada hati ini dan mengalir dalam urat nadi, melambungkan asa namun aku sikapi itu semua itu dengan doa dan kepasrahan, karena aku hanya seorang hamba yang hakikatnya terlahir kedunia hanya membawa tangis dan tawa.
- Habibah jika kau dengan jeritan kalbuku yang memujamu maka tersibaklan hijab yang tertutup itu, Jika engkau adalah pecahan tulang rusukku berlayarlah aku menuju ArsyNYA dengan semangat dan dukunganmu, aku dengan segala kekuranganku mencoba tak pernah bertingakah palsu di hadapanmu, agar angin menghembuskan serbuk sari cintaku ke kelopak hatimu.
- Habibah slamat siang untukmu.
- Dear Habibah kutitipkan salam rinduku bersama angin yang melaju kebarat, semoga ketika tetuju disana rahmat dan ridhoNYA ikut menyertai perjalananmu, anggun dan keelokanmu masih terproyeksi di layar otak kecilku, seperti mempresentasikan karunia dari yang maha Kuasa, aku menyimakmu dengan seksama berharap memahami apa makna dari ini semua. Tak pernah ku mengenal waktu yang sering memutar usiaku sejak ku patri namamu di hatiku, kau kan terus berjelaga di kesendirianku, kediamanku dan keterpurukanku.
- Wahai tuhan Yang Maha Sempurna nan bijaksana, lindungi dan rahmatilah ia seperti kau lindungi dan merahmati para kekasihMU, bahagiakan ia slalu dalam gengamanMU, peluk dan belailah ia dengan RidhoMU, ya Allah kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah bisa melihat dia tersenyum slalu, lukiskan senyum yang anggun itu di lesung pipinya yang mempesona, sempurnakan akhlaknya seperti KAU sempurnakan akhlak para aulia’ dan salihin. Dan dekatkan ia padaMU agar kedamaian itu ada di hatinya slalu.
- Wahai penguasa hatiku dan hati seluruh makhluk semesta, jika dunia ini bukan tempat persandinganku denganNYA, sandingkan aku dengannya di bawah arsyMU yang agung dan abadi, karena di sanalah sesungguhnya kebahagiaan itu akan aku raih, buat ia lebih cantik dari bidadari di langit kesatu biar aku bisa bersamanya menuju para nabi dan rosul tuk melihatMU. Amin
- Habibah sempurnalah Hatimu ditangan Penciptamu.
- Aku seperti mendapat kutukan dari penyihir yang menyeretku ke dalam kegelapan, ketika mengetahui kita tidak akan bertemu beberapa hari dalam minggu-minggu ini, tanganku bergetar ketika menulis bait syair ini, mataku berair dan jantungku terpompa dengan kencang, aku harus melewati hari tanpa melihat senyuman di wajahmu, dengan kekuatan apa aku menapaki ini semua, seperti kapal yang berlayar di tengah gurun, aku diterpa panas dan badai pasir yang meremukkanku.
- Kubawa lembaran kalam Allah mushaf indah maha suci Alqur’anul karim yang terjaga hingga akhir kiamat nanti, aku baca dengan harapan kutemukan ketenangan dalam hati dan pencerahan dari Illahi, Habibah bagaimana aku menghentikan laju darahku yang megalir jika engkau adalah darah itu sendiri, bagaimana ku berhenti menghela nafas jika engkau adalah udara yang mengisi, bagaimana aku bisa melihat jika engkau adalah cahayanya, Habibah berkat cintaku ini kepadamu aku semakin terus merengek dan mengemis di hadapan tuhanku yang Maha Segala-galanya, riduku yang menggila padamu membuat nafasku melantunkan asma-asma suciNYA, kerena kepapaanku, karena kebodohanku, karena keterbatasanku, aku harapkan impian tinggi untuk memilikimu.
- Habibah sedang apa kau saat ini, malam yang larut menelanku dalam kelabunya hati, sudah lelapkah kau terbawa mimpi….?. Aku memejamkan mata namun otakku tak mampu berhenti berfikir tentangmu, kegelisahan menghampiriku, kegalauan menyelimuti hatiku, karena ridu, karena cintaku padamu Habibah.
- Dear Habibah dialam bawah sadarku kau semaikan wangi kasturi di taman hatiku, aku bisa memiliki jiwa dan ragamu serta cintamu ketika kupejamkan mataku, kau sambut tanganku dan memelukku dengan penuh hangat kasih, kau panggil namaku dengan manjamu, anganku melambung tinggi seiring doaku padaNYA agar itu menjadi nyata, Habibah adakah sedikit hatimu rasa untukku…? Tak usah kau jawab pertanyaanku biar waktu yang menjawab itu.
- Habibah sayangku aku seperti terhampar di lautan luas yang merasa sangat dahaga ingin meneguk air basahi kerongkonganku, namun air laut tak dapat kuteguk dan masuk ke mulutku, aku begitu dekat denganmu namun menyentuhmu apalagi mendapatkan hatimu tak pernah kuraih itu ditanganku, saat itu hanya rengekan mengemis ku tujukan pada Pencipta lautan agar IA bersedia membantuku dari semua ujian ini.
- Dangkal dan tumpulnya pengetahuanku tentang takdir menyeretku ke titik terendah keputusasaan, namun hatiku terus mengulurkan tangan agar aku bisa tetap di permukaan, keadaan rapuhku rentan akan serangan – serangan ikan predator yang siap menjadikanku santapan dan kudapan mereka, semetara aku terus bertahan dan berharap seorang nahkoda atau anak buah kapal yang melihatku mengambang di permukaan.
- Aku haus akan cintamu Habibah, aku ingin engkaulah yang datang tuk selamatkan aku, Habibah dengarkanlah rintihan hatiku yang terus menyebut namamu.
- Kulihat langit yang terang dan bercahaya penuh bintang dan sinar redup sang rembulan, aku seperti di timang Tuhanku dan di belai seperti bayi, kepolosan dan ketidak mengertianku akan jalan hidupku selanjutnya yang kutempuh membuatku merebah dalam ranjang dan dipan-dipan keikhlasan yang DIA buatkan untukku, semua musuh-musuh mulai megintai dan menyusun sebuah strategi agar aku bangun dari istirahat dan mau berjalan ke tanah tandus kering nan gersang, saat aku terbangun dan membuka mata aku mulai melihat sosok “bani hawa” yang menahan laju kakiku menuruti musuh hatiku, aku masih bersandar di atas dipan-dipan dan duduk di atas ranjang itu, aku terpesona setengah mati lalu aku bertanya pada Tuhanku “Ya Allah siapakah dia yang saat ini hatiku terkunci dari ciptaanMU yang lain?” tuhan belum menjawab pertanyaanku, dan masih membiarkanku dalam terpesona dan kebisuan.
- Malam itu aku tak lagi meyaksikan cahaya bintang dan sayu rendup cahaya purnama, hingga mentari menyapa menggantikan malam aku masih belum beranjak kaki untuk mengagumi, Habibah…. Habibah… Habibah.
- Duhai tuhanku yang maha pengasih lagi maha panyayang, aku tak bisa membohongi hati nuraniku jika aku sangat mencintainya, aku tak bisa menampik perasaan ini kalalu aku sungguh tak bisa jauh darinya barang sebentarpun, tak pernah ku jenuh memohon padaMU atas setiap doa yang kuiringi air mata, agar aku lekas diberikan jawaban atas hal ini semuanya, ya allah betapa sakit dan menyedihkannya perasaan cinta itu, karena cinta sejati yang kuinginkan hanyalah KAMU, kini terbagi dua tak lagi satu seperti yang dulu.
- Duhai ya allah ya tuhanku yang maha indah dan maha elok, aku seperti terbawa arus perasaanku sendiri, aku tak lagi berdiri diatas kedua kakiku, seperti aku telah membuatnya cacat dan tak berfungsi lagi untuk berdiri, kini aku terombang ambing terbawa angin kesana dan kemari, tapi dalam hatiku tanganku berpegang erat kepadaMU agar ketika aku jatuh nanti KAU masih memegangku dan aku tak mendapatkan luka yang parah dan berdarah.
- Sore hari kudengar kabar Habibah sedang sakit dan tak bisa berangkat untuk belajar, aku tergoncang seperti lonceng yang bergetar karena hantaman balok yang dipukulkan ke arahku, seluruh perasaanku bergetar dan berbunyi tak menentu, aku pun memutuskan tak jadi berangkat untuk belajar dan aku ingin bertamu kerumahnya, aku mandi dan berangkat selepas maghrib dengan niat bulat aku ingin kerumahnya, di tengah perjalanan aku memutuskan untuk membeli oleh-oleh kecil untuk Habibah karena aku tahu dia sangat suka buah Apel. Sesampainya disana aku dapat sambutan hangat dari kedua orangtuanya, mereka menyambutku dengan ramah mempersilahkanku masuk dan memberiku suguhan layaknya sebagai tamu, aku sempat berbincang dan ngobrol dengan ayahnya sebelum Habibah datang dari kepergiannya bersama adiknya.
- Ya allah, maha suci Engkau dengan segala kerajaanMU, kau buat dia benar-benar sempurna tanpa cela di mataku, aku terhisap lorong pesona yang mengalir dari raganya, aku mencoba untuk tak terhisap terbawa masuk kedalamnya, sesekali aku palingkan mataku dari memandang wajahnya, meskipun arus pembicaraanku tertuju padanya dan dia sedang menyimak obrolanku, aku seperti bertahan dengan erat dari badai cinta yang coba menghempaskanku jauh, aku kurung hatiku malam itu di balik jeruji titanium kedap udara agar getaran badai yang hendak menerobos tak berpengaruh dengan semua itu.
- Habibah kuteriakkan nama itu menggaung di tebing dan jajaran ngarai hingga lenyap tertelan rimbunnya hutan, Habibah kuteriakkan nama itu menggema di padang gurun dan jajaran oase hingga lenyap terhanyut angin.
- Habibah kusampaikan salam sayang dan rinduku pada seluruh penghuni jagat angkasa dengan harapan akan tersampaikan ke relung hatimu yang terdalam ketika waktu ini membuatmu memahami akan hal itu.
- Awan bergemuruh berganti mewarnai langit sebagai kanfasnya menjadi hitam dan kelabu, menutup cahaya keindahan malam, bintang, purnama dan cahaya aurora yang berkilau penuh warna, alam merasakan getaran cintaku yang begitu yang begitu besar padamu mereka seperti ikut terharu menunjukkan ibanya padaku, lewat alunan syahdu bahasanya tak berbbisik namun arah gerak mengisyaratkannya kepadaku.
- Aku menyerahkan langkah-ku dipapah Rabbi-ku, tak kubiarkan nafsu dan keinginan menggantikan langkah mengisi jalan hariku-hariku, rasa ini indah namun menyakitkan, rasa ini nyata tapi tak terlisankan, aku bertahan dengan seluruh gejolak yang tak tertahankan, aku terdiam sunyi dan beku dalam kebisuan, seakan ribuan tarantula hitam menggerayat dari kaki hingga kepala, seakan mamouth jantan menginjakkan kakinya di perutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar