Entah rangkaian kata apalagi yang kan kulantunkan untuk melukiskan perasaan kalbuku. Engkau bukan seperti sosok kekasih yang lain, mendarah, mendaging dan bercokol kuat dalam raga, pikiran dan ruhku.
Sesungguhnya aku menyadari betapa lemah sosok raga yang menggoreskan tinta ini menjadi sebuah guratan, sesosok raga yang merasa memiliki seorang kekasih yang hakikatnya bukan miliku tapi milikNYA, Sesosok insan lemah yang selalu merindu dan mencinta meski dia yang dirindu dan di cinta tak pernah merasakan hal serupa.
Aku menertawai diriku sendiri ketika bercermin di telaga Al Maula Azawajalla, tersadar bahwa aku jauh dari kesempurnaan, tertidur dan mabuk dalam kefanaan dunia yang melalaikanku, yah…. Inilah aku cucu adam yang harus menyerah dalam kuasa takdir pencipta.
Becokol dalam kalbuku dua buah yang kubu yang berseteru, berperang saling pukul dan membunuh datu dengan yang lain. Ragaku yang lemah di jadikan meraka sebagai medan perang berdarah tuk memperoleh kemenangan dan berebut kekuasaan.
Sampai kapan perang ini kan usai..? ketika kutanyakan itu pada sang waktu dia hanya diam membisu, peluhku menetes menahan rasa sakit yang kian menghujam dalam, lelah semakin menyeratku dalam keputusasaan.
Berlari ku menapaki langkah ke utara hingga ke selatan, ku kepakkan sayapku dari timur hingga ke barat, mencari pertolongan mengais puing-puing jawaban, untuk ku makan dan kucerna dalam kalbuku yang kelaparan.
Hanya itu yang bisa kulakukan, karena aku tak punya sebesar biji atom kekuasaan, karena skenario telah di tulis sang sutradara dan aku hanya seorang pemeran figuran, ketika nafas telah terhenti menghela, di saat itu aku baru mengetahui cuplikan tayangan hidupku, disaat itu pula sang sutradara akan menilai semua peranku, seperti apa rapor nilai untukku…..?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar