Minggu, 16 Agustus 2009

Karya - Karya Rumi


SEBERAPA JAUH ENGKAU DATANG!

Sesungguhnya, engkau adalah tanah liat. Dari bentukan mineral, kau menjadi sayur-sayuran. Dari sayuran, kau menjadi binatang, dan dari binatang ke manusia. Selama periode ini, manusia tidak tahu ke mana ia telah pergi, tetapi ia telah ditentukan menempuh perjalanan panjang. Dan engkau harus pergi melintasi ratusan dunia yang berbeda.
JALAN
Jalan sudah ditandai.
Jika menyimpang darinya, kau akan binasa.
Jika mencoba mengganggu tanda-tanda jalan tersebut,
kau melakukan perbuatan setan.




EMPAT LAKI-LAKI DAN PENERJEMAH

Empat orang diberi sekeping uang.
Pertama adalah orang Persia, ia berkata, "Aku akan membeli anggur."
Kedua adalah orang Arab, ia berkata, "Tidak, karena aku ingin inab."
Ketiga adalah orang Turki, ia berkata, "Aku tidak ingin inab, aku ingin uzum."
Keempat adalah orang Yunani, ia berkata, "Aku ingin stafil."
Karena mereka tidak tahu arti nama-nama tersebut, mereka mulai bertengkar. Mereka memang sudah mendapat informasi, tetapi tanpa pengetahuan.
Orang bijak yang memperhatikan mereka berkata, "Aku tidak dapat memenuhi semua keinginan kalian, hanya dengan sekeping uang yang sama. Jika kalian jujur percayalah kepadaku, sekeping uang kalian akan menjadi empat; dan keempatnya akan menjadi satu."
Mereka pun tahu bahwa sebenarnya keempatnya dalam bahasa masing-masing, menginginkan benda yang sama, buah anggur.








AKU ADALAH KEHIDUPAN KEKASIHKU

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku ...
BURUNG HANTU DAN ELANG RAJA
Seekor elang kerajaan hinggap di dinding reruntuhan yang dihuni burung hantu. Burung-burung hantu menakutkannya, si elang berkata, "Bagi kalian tempat ini mungkin tampak makmur, tetapi tempatku ada di pergelangan tangan raja." Beberapa burung hantu berteriak kepada temannya, "Jangan percaya kepadanya! Ia menggunakan tipu muslihat untuk mencuri rumah kita."


DIMENSI LAIN

Dunia tersembunyi memiliki awan dan hujan,
tetapi dalam jenis yang berbeda.
Langit dan cahaya mataharinya, juga berbeda.
Ini tampak nyata,
hanya untuk orang yang berbudi halus --
mereka yang tidak tertipu oleh kesempurnaan dunia yang semu.
MANFAAT PENGALAMAN
Kebenaran yang agung ada pada kita
Panas dan dingin, duka cita dan penderitaan,
Ketakutan dan kelemahan dari kekayaan dan raga
Bersama, supaya kepingan kita yang paling dalam
Menjadi nyata.
KESADARAN
Manusia mungkin berada dalam keadaan gembira, dan manusia lainnya berusaha untuk menyadarkan. Itu memang usaha yang baik. Namun keadaan ini mungkin buruk baginya, dan kesadaran mungkin baik baginya. Membangunkan orang yang tidur, baik atau buruk tergantung siapa yang melakukannya. Jika si pembangun adalah orang yang memiliki pencapaian tinggi, maka akan meningkatkan keadaan orang lain. Jika tidak, maka akan memburukkan kesadaran orang lain.
DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN
Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna ...
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.
MEREKA YANG TAHU, TIDAK DAPAT BICARA
Kapan pun Rahasia Pemahaman diajarkan kepada semua orang
Bibir-Nya dijahit melawan pembicaraan tentang Kesadaran.
JOHA DAN KEMATIAN
Seorang anak laki-laki menangis dan berteriak di belakang jenazah ayahnya, ia berkata, "Ayah! Mereka membawamu ke tempat di mana tidak ada pelindung lantai. Di sana tidak ada cahaya, tidak ada makanan; tidak ada pintu maupun bantuan tetangga..."
Joha, diperingatkan karena penjelasan tampaknya mencukupi, berteriak kepada ayahnya sendiri:
"Orangtua yang dihormati oleh Allah, mereka diambil ke rumah kami!"
KECERDASAN DAN PEMAHAMAN SEJATI
Kecerdasan adalah bayangan dari Kebenaran obyektif
Bagaimana bayangan dapat bersaing dengan cahaya matahari?
REALITAS SEJATI
Di sini, tidak ada bukti akademis di dunia;
Karena tersembunyi, dan tersembunyi, dan tersembunyi.
JIWA MANUSIA
Pergilah lebih tinggi -- Lihatlah Jiwa Manusia!
PELEPASAN MENIMBULKAN PEMAHAMAN
Wahai Hati! Sampai dalam penjara muslihat,
kau dapat melihat perbedaan antara Ini dan Itu,
Karena pelepasan seketika dari Sumber Tirani;
bertahan di luar
KAU DAN AKU
Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah -- dengan satu jiwa,
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita --
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada 'Kau' atau 'Aku',
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita --
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku.
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini ...
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan --
Kau dan Aku.
DUA ALANG-ALANG
Dua alang-alang minum dari satu sungai.
Satunya palsu, lainnya tebu.

AKAN JADI APA DIRIKU?
Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput;
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
Aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat --
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.
RASUL
Rasul adalah mabuk tanpa anggur:
Rasul adalah kenyang tanpa makanan.
Rasul adalah terpesona, takjub:
Rasul adalah tidak makan maupun tidur
Rasul adalah raja di balik jubah kasar:
Rasul adalah harta benda dalam reruntuhan.
Rasul adalah bukan dari angin dan bumi:
Rasul adalah bukan dari api dan air.
Rasul adalah laut tanpa pantai:
Rasul adalah hujan mutiara tanpa menalang.
Rasul adalah memiliki ratusan bulan dan langit:
Rasul adalah memiliki ratusan cahaya matahari.
Rasul adalah bijaksana melalui Kebenaran:
Rasul adalah bukan sarjana karena buku.
Rasul adalah melebihi keyakinan dan kesangsian:
Karena Rasul apakah ada 'dosa' atau 'kebaikan'?
Rasul berangkat dari Ketiadaan:
Rasul telah tiba, benar-benar berangkat.
Rasul adalah, Tersembunyi, Wahai Syamsuddin!
Carilah, dan temukan - Rasul!
KEBENARAN
Nabi bersabda bahwa Kebenaran telah dinyatakan:
"Aku tidak tersembunyi, tinggi atau rendah
Tidak di bumi, langit atau singgasana.
Ini kepastian, wahai kekasih:
Aku tersembunyi di kaibu orang yang beriman.
Jika kau mencari aku, carilah di kalbu-kalbu ini."
ILMU PENGETAHUAN
Pengetahuan akan Kebenaran lenyap dalam pengetahuan Sufi. Kapan manusia akan memahami ucapan ini?
DEBU DI ATAS CERMIN
Hidup/jiwa seperti cermin bening; tubuh adalah debu di atasnya. Kecantikan kita tidak terasa, karena kita berada di bawah debu.
TINDAKAN DAN KATA-KATA
Aku memberi orang-orang
apa yang mereka inginkan.
Aku membawakan sajak karena mereka
menyukainya sebagai hiburan.
Di negaraku, orang tidak menyukai puisi.
Sudah lama aku mencari orang yang
menginginkan tindakan, tetapi
mereka semua ingin kata-kata.
Aku siap menunjukkan tindakan pada kalian;
tetapi tidak seorang pun akan menyikapinya.
Maka aku hadirkan padamu -- kata-kata.
Ketidakpedulian yang bodoh
akhirnya membahayakan,
Bagaimanapun hatinya satu denganmu.
KERJA
Kerja bukan seperti yang dipikirkan orang.
Bukan sekadar sesuatu yang
jika sedang berlangsung, kau
dapat melihatnya dari luar.
Seberapa lama kita, di Bumi-dunia,
seperti anak-anak
Memenuhi lintasan kita dengan debu dan batu dan serpihan-serpihan?
Mari kita tinggalkan dunia
dan terbang ke surga,
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakan
dan menuju ke kelompok Manusia.

RUMAH

Jika sepuluh orang ingin memasuki sebuah rumah, dan hanya sembilan yang menemukan jalan masuk, yang kesepuluh mestinya tidak mengatakan, "Ini sudah takdir Tuhan."
Ia seharusnya mencari tahu apa kekurangannya.

BURUNG HANTU

Hanya burung bersuara merdu yang dikurung.
Burung hantu tidak dimasukkan sangkar

UPAYA

Ikat dua burung bersama.
Mereka tidak akan dapat terbang,
kendati mereka tahu memiliki empat sayap.

PENCARIAN

Carilah mutiara, saudaraku, di dalam tempurung;
Dan carilah keahlian diantara manusia di dunia.

TUGAS INI

Kau mempunyai tugas untuk dijalankan. Lakukan yang lainnya, lakukan sejumlah kegiatan, isilah waktumu secara penuh, dan jika kau tidak menjalankan tugas ini, seluruh waktumu akan sia-sia.

KOMUNITAS CINTA

Komunitas Cinta tersembunyi diantara orang banyak;
Seperti orang baik dikelilingi orang jahat.
SEBUAH BUKU
Tujuan sebuah buku mungkin sebagai petunjuk. Namun kau dapat juga menggunakannya sebagai bantal; Kendati sasarannya adalah memberi pengetahuan, petunjuk, keuntungan.
Ia berkata, "Siapa itu berada di pintu?"
Aku berkata, "Hamba sahaya Paduka."
Ia berkata, "Kenapa kau ke mari?"
Aku berkata, "Untuk menyampaikan hormat padamu, Gusti."
Ia berkata, "Berapa lama kau bisa bertahan?"
Aku berkata, "Sampai ada panggilan."
Aku pun menyatakan cinta, aku mengambil sumpah
Bahwa demi cinta aku telah kehilangan kekuasaan.
Ia berkata, "Hakim menuntut saksi kalau ada pernyataan."
Aku berkata, "Air mata adalah saksiku, pucatnya wajahku adalah buktiku."
Ia berkata, "Saksi tidak sah, matamu juling."
Aku berkata, "Karena wibawa keadilanmu mataku terbebas dari dosa."
Syair religius di atas adalah cuplikan dari salah satu puisi karya penyair sufi terbesar dari Persia, Jalaluddin Rumi. Kebesaran Rumi terletak pada kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Dua hal itulah --kedalaman makna dan keindahan bahasa-- yang menyebabkan puisi-puisi Rumi sulit tertandingi oleh penyair sufi sebelum maupun sesudahnya.
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah --sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewa-dewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit itu.
Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, "Orientasi kepada indera dalam menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan yang dipelopori kelompok Mu'tazilah. Mereka merupakan para budak yang tunduk patuh kepada panca indera. Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah. Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula memanjakannya."
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. "Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?" tegas Rumi.

WAFAT

Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya. Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya tiba-tiba dilanda kecemasan, gara-gara mendengar kabar bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, sakit keras. Meski menderita sakit keras, pikiran Rumi masih menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo'akan, "Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu dengan kesembuhan." Rumi sempat menyahut, "Jika engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan bermakna baik. Tapi kematian ada juga kafir dan pahit."
Pada 5 Jumadil Akhir 672 H dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan, penduduk setempat berdesak-desak ingin menyaksikan. Begitulah kepergian seseorang yang dihormati ummatnya.

TULISAN DI BATU NISAN JALALUDDIN AR-RUMI

Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tetapi carilah di hati manusia.
Aku mati sebagai mineral
dan menjelma sebagai tumbuhan,
aku mati sebagai tumbuhan
dan lahir kembali sebagai binatang.
Aku mati sebagai binatang dan kini manusia.
Kenapa aku harus takut?
Maut tidak pernah mengurangi sesuatu dari diriku.
Sekali lagi,
aku masih harus mati sebagai manusia,
dan lahir di alam para malaikat.
Bahkan setelah menjelma sebagai malaikat,
aku masih harus mati lagi;
Karena, kecuali Tuhan,
tidak ada sesuatu yang kekal abadi.
Setelah kelahiranku sebagai malaikat,
aku masih akan menjelma lagi
dalam bentuk yang tak kupahami.
Ah, biarkan diriku lenyap,
memasuki kekosongan, kasunyataan
Karena hanya dalam kasunyataan itu
terdengar nyanyian mulia;
"Kepada Nya, kita semua akan kembali"
Apa Yang mesti Ku lakukan
Apa yang mesti kulakukan, O Muslim? Aku tak mengenal didiku sendiri
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Gabar, bukan Muslim
Aku bukan dari Timur, bukan dari Barat, bukan dari darat, bukan dari laut,
Aku bukan dari alam, bukan dari langit berputar,
Aku bukan dari tanah, bukan dari air, bukan dari udara, bukan dari api,
Aku bukan dari cahaya, bukan dari debu, bukan dari wujud dan bukan dari hal
Aku bukan dari India, bukan dari Cina, bukan dari Bulgaria, bukan dari Saqsin,
Aku bukan dari Kerajaan Iraq, bukan dari negeri Korazan.
Aku bukan dari dunia in ataupun dari akhirat, bukan dari Sorga ataupun Neraka
Aku bukan dari Adam, bukan dari Hawa, bukan dari Firdaus bukan dari Rizwan
Tempatku adalah Tanpa tempat, jejakku adalah tak berjejak
Ini bukan raga dan jiwa, sebab aku milik jiwa Kekasih
Telah ku buang anggapan ganda, kulihat dua dunia ini esa
Esa yang kucari, Esa yang kutahu, Esa yang kulihat, Esa yang ku panggil
Ia yang pertama, Ia yang terakhir, Ia yang lahir, Ia yang bathin
Tidak ada yang kuketahui kecuali :Ya Hu" dan "Ya man Hu"
Aku mabok oleh piala Cinta, dua dunia lewat tanpa kutahu
Aku tak berbuat apa pun kecuali mabok gila-gilaan
Kalau sekali saja aku semenit tanpa kau,
Saat itu aku pasti menyesali hidupku
Jika sekali di dunia ini aku pernah sejenak senyum,
Aku akan merambah dua dunia, aku akan menari jaya sepanjang masa.
O Syamsi Tabrizi, aku begitu mabok di dunia ini,
Tak ada yang bisa kukisahkan lagi, kecuali tentang mabok dan gila-gilaan.

Jalaludin Rumi


Jalaludin Rumi

'''Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri''' ('''Jalaluddin Rumi''') atau sering pula disebut dengan nama '''Rumi''' adalah seorang sufi|penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm. Ayah Rumi seorang cendekia yang saleh, mistikus yang berpandangan ke depan, seorang guru yang terkenal di Balkh. Saat Rumi berusia 3 tahun karena adanya bentrok di kerajaan maka keluarganya meninggalkan Balkh menuju Khorasan. Dari sana Rumi dibawa pindah ke Nishapur, tempat kelahiran penyair dan alhi matematika Omar Khayyam. Di kota ini Rumi bertemu dengan Attar yang meramalkan si bocah pengungsi ini kelak akan masyhur yang akan menyalakan api gairah Ketuhanan.
Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain. Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut). Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya (Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad, mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu. Ia baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut mengajar pada perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya yang luas, di samping sebagai guru, ia juga menjadi da'i dan ahli hukum Islam. Ketika itu di Konya banyak tokoh ulama berkumpul. Tak heran jika Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika ia sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana seorang ulama, ia juga memberi fatwa dan tumpuan ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu berubah seratus delapan puluh derajat ketika ia berju
PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, seorang tokoh sufi juga, ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak bakal menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian mencatat, ramalan Fariduddin itu tidak meleset.
Masa kecil Rumi, adalah masa pendidikan keras yang diterimanya. Ia tumbuh menjadi seorang lelaki yang kaku, selain Qur'an, hadits, fiqh, tafsir dan filsafat ia tak mau mempelajarinya. Sampai kemudian ia bertemu dengan seorang yang merubah hidupnya. Syamsi Tabriz, seorang sufi yang dengan tenang pernah membuang buku-buku filsafat Rumi ke dalam sumur. "Buku ini sangat rumit dan sulit dipahami," katanya sambil melempar buku-buku tebal Rumi ke dasar sumur.
Kontan saja, Rumi marah besar dibuatnya dan mengatakan betapa besar kerugian akan peristiwa itu. Tapi Syamsi, masih tenang. Tak banyak bicara ia menarik keluar buku-buku Rumi. Ajaib, semuanya utuh tak basah meski hanya selembar saja. Peristiwa itulah yang membuat Rumi memohon untuk menjadi murid Syamsi.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya. Tiba- tiba seorang lelaki asing --yakni Syamsi Tabriz-- ikut bertanya, "Apa yang dimaksud dengan riyadhah dan ilmu?" Mendengar pertanyaan seperti itu Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat pada sasarannya. Ia tidak mampu menjawab. Berikutnya, Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah bergaul beberapa saat, ia mulai kagum kepada Tabriz yang ternyata seorang sufi. Ia berbincang-bincang dan berdebat tentang berbagai hal dengan Tabriz. Mereka betah tinggal di dalam kamar hingga berhari-hari.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku ayahnya itu, "Sesungguhnya, seorang guru besar tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu melihat kandungan ilmu yang tiada taranya."
Rumi benar-benar tunduk kepada guru barunya itu. Di matanya, Tabriz benar-benar sempurna. Cuma celakanya, Rumi kemudian lalai dengan tugas mengajarnya. Akibatnya banyak muridnya yang protes. Mereka menuduh orang asing itulah biang keladinya. Karena takut terjadi fitnah dan takut atas keselamatan dirinya, Tabriz lantas secara diam-diam meninggalkan Konya.
Bak remaja ditinggalkan kekasihnya, saking cintanya kepada gurunya itu, kepergian Tabriz itu menjadikan Rumi dirundung duka. Rumi benar-benar berduka. Ia hanya mengurung diri di dalam rumah dan juga tidak bersedia mengajar. Tabriz yang mendengar kabar ini, lantas berkirim surat dan menegur Rumi. Karena merasakan menemukan gurunya kembali, gairah Rumi bangkit kembali. Dan ia mulai mengajar lagi.
Beberapa saat kemudian ia mengutus putranya, Sultan Salad, untuk mencari Tabriz di Damaskus. Lewat putranya tadi, Rumi ingin menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas tindakan murid-muridnya itu dan menjamin keselamatan gurunya bila berkenan kembali ke Konya.
Demi mengabulkan permintaan Rumi itu, Tabriz kembali ke Konya. Dan mulailah Rumi berasyik-asyik kembali dengan Tabriz. Lambat-laun rupanya para muridnya merasakan diabaikan kembali, dan mereka mulai menampakkan perasaan tidak senang kepada Tabriz. Lagi-lagi sufi pengelana itu, secara diam-diam meninggalkan Rumi, lantaran takut terjadi fitnah. Kendati Rumi ikut mencari hingga ke Damaskus, Tabriz tidak kembali lagi.
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan mengembangkan emosinya, sehingga ia menjadi penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan menyanjung gurunya itu, ia tulis syair- syair, yang himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan-i Syams-i Tabriz. Ia bukukan pula wejangan-wejangan gurunya, dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat-i Syams Tabriz.
Selain menulis puisi, Syamsi Tabriz, mendiang gurunya itu mengenalkan pula kepada Rumi tarian religi yang biasa di sebut Sama'. Tarian ini biasanya dibawakan oleh para darwis, orang-orang yang mempelajari ajaran sufi. Kebanyakan di antara mereka adalah laki-laki.
Tarian ini melambangkan kebebasan manusia untuk bertemu Tuhannya. Para penari memakai baju putih dengan bagian bawah yang lebar, seperti rok panjang. Asesoris lain adalah turbus sewarna yang menjulang di atas kepala. Mereka berputar, pertama membaca al Fatiha, kian lama kian cepat putaran mereka. Kemudian hanya kalimat Allah, Allah, Allah saja yang terdengar nyaris seperti dengungan lebah.
Kini, meski bukan Rumi yang melakukan tarian ini untuk pertama kali, tapi Sama' nyaris identik dengan Rumi. Jalaludin Rumi, dalam pengasingan dirinya menuangkan puisi-puisi jiwayang lahir dari hubungan saat beribadah. Tak heran jika membaca puisi Rumi, seakan menemukan kesejukan tersendiri karena puisinya lahir dari dasar hati.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi baru, Syekh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas dorongan sahabatnya itu, ia berhasil selama 15 tahun terakhir masa hidupnya menghasilkan himpunan syair yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi-i. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain. Karya tulisnya yang lain adalah Ruba'iyyat (sajak empat baris dalam jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang tasawuf), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syekh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan tarekat Maulawiyah atau Jalaliyah. Tarekat ini di Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (Para Darwisy yang Berputar-putar). Nama itu muncul karena para penganut tarekat ini melakukan tarian berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling, dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.

== Karya ==
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama [[al-Matsnawi al-Maknawi]] konon adalah sebuah revolusi terhadap [[Ilmu Kalam]] yang kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Diakui, bahwa puisi Rumi memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan para sufi penyair lainnya. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa [[Tuhan]], sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.
Banyak dijumpai berbagai kisah dalam satu puisi Rumi yang tampaknya berlainan namun nyatanya memiliki kesejajaran makna simbolik. Beberapa tokoh sejarah yang ia tampilkan bukan dalam maksud kesejarahan, namun ia menampilkannya sebagai imaji-imaji simbolik. Tokoh-tokoh semisal [[Yusuf]], [[Musa]], [[Yakub]], [[Isa]] dan lain-lain ia tampilkan sebagai lambang dari keindahan jiwa yang mencapai [[ma'rifat]]. Dan memang tokoh-tokoh tersebut terkenal sebagai pribadi yang diliputi oleh cinta Ilahi.
Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma'anawi (Couplets of Inner Meaning). Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin, semuanya mengandung bagian-bagian penting dari ajaran-ajarannya.
Pilihan-pilihan berikut ini, diambil dari semua sumber tersebut, bertema meditasi yang dapat diambil sebagai aforisme dan deklarasi dogma, atau sepotong nasihat guru. Penggunaan kata-kata Sufistik mereka, berlangsung terus. Ar-Rumi, seperti penulis Sufi lain, menanamkan ajarannya dalam sebuah kerangka yang secara efektif menjabarkan makna batiniah sebagaimana sebuah pertunjukan atau pameran. Teknik ini bermanfaat melindungi mereka yang tidak mampu menggunakan materi pada level eksperimen yang lebih tinggi; membiarkan mereka yang menginginkan puisi, untuk memilih puisi; memberi hiburan kepada orang-orang yang menginginkan cerita; mendorong kaum intelektual yang menghargai pengalaman-pengalaman tersebut.
Salah satu pernyataan kalimat-kalimatnya yang terkenal adalah judul dari pembicaraan-ringannya: "Yang ada di dalam ada di dalam" ("Engkau mengeluarkan apa yang ada di dalam untuk dirimu").
Ar-Rumi memiliki kegelisahan Sufistik yang luar biasa dalam kesusastraan dan puisi, melebihi pujangga di zamannya, dan terus menerus menegaskan bahwa pencapaian tersebut adalah sebagian kecil dibandingkan dengan kesufian.

Alam Rasa


- Syahdan malam itu aku berjalan memasuki alam perasaan, dimana dewa-dewa termanifestasi dalam pikiran, hidup dialam kenyataan, semua mempunyai raga dan kegiatan, semua bergerak sesuai dengan keadaan. Brahma, shiwa, wishnu. Ares, hera dan zeus, ternisbahlah terwujudlah.
- Memasuki gerbang utamanya yang bermaterial sesuatu yang belum terlihat mata sebelumnya, bukan batu bukan sedimen, bukan wujud bukan sinar dan belum ada abjad yang bisa mendeskripsikannya, tapi alam ini telah terjelajahi hampir setiap insan yang bernyawa, alam ini dikendalikan situasi yang mengatur setiap warna dan alur cerita, situasi kali ini adalah situasi “abu-graib penjara asa”
- Kuketuk pintu kucapkan salam dan sapa pada penghuni didalamnya, wishnu membuka pelahan dan mempersilahkanku masuk, halus santun tuturnya bercampur sopan budinya membuatku nyaman masuk kedalamnya, kunikmati setiap hiasan yang terpampang dan tepajang di dinding, lantai dan atapnya, bola mataku mulai menerawang ke awang-awang, inikah perasaan…?
- Setalah tertegun dan asyik ku bercumbu dengan kekaguman, Shiwa dengan bengisnya menyapaku tak bersahabat seolah ingin melenyapkan-ku malam ini, datang membawa trisula di tangan kanannya, sorot matanya tajam mengeluarkan kilat, suaranya menggelegar seperti gemuruh yang menggelegar, raut mukanya merah darah, aku berguman dalam hati “aku tak pernah bermasalah dengannya kenapa dia hendak melenyapkanku ?”. aku takut berlari setengah mati berusaha menyelamatkan diri darinya namun dia mengikuti langkahku seolah sedang asyik berburu, aku yang lemah ini pun akhirnya tertangkap olehnya dan di siksa disini di abu-graib penjara asa, aku di sayat dengan pedang “kecemburuan” yang tajamnya merobek urat – urat tubuhku aku menjerit, menangis kesakitan tapi tak didengar apalagi di hiraukan, seolah belum puas dia melanjutkan dengan cambukan “amarah”, aku diam mengatupkan bibirku dan merapatkan gigi ketika dia lecutkan cemeti itu di punggungku, sakitnya aku tahan sampai terasa ke ulu hatiku namun ku-harus tetap hidup dalam kesadaran akal-ku. Pukulan – pukulan godam “terasingkan” telak di arahkan muka dan perutku, malam ini akupun lebam dan hancur. Aku hanya tersisa nafas……..
- Aku tahu Brahma sedang menyaksikanku, dan aku pun mengerti dia punya sesuatu sesuatu untukku yang masih disembunyikan, dia menciptakan alur yang bercampur berdiri ditengah dan tidak memihak, sebelum beranjak dia memulihkan keadaanku sejenak agar aku setidaknya mampu berdiri dan berlari….
- Selang waktu berganti dari jam yang menindih menit, aku berkelit di bawah dingin suhu ruangan yang menyusupi pori-poriku, ku menutup mataku bukan karena aku mengantuk, tapi ku menghindar sesuatu yang bisa membuatku terluka. Sejenak ku menutup mata aku bertemu Ares dan Hera, aku jumpai dia, Ares menabuh genderang perang menyeru ke barisan serdadunya untuk menyerang pikiranku, serentak tiga ratus ribu pasukan-nya yang berlari, berkuda dan diatas gajah menuju menyerangku, aku yang sejenak jernih malam itu menjadi selalu berprasangka buruk dan gerah akan segala sesuatu, Hera pun melirik dari langit hendak meyusup dan menghidupkan arwah kebencian di sanubariku, aku mulai sadar ketika mentari di alam rasa mulai redup dari keadaan biasanya, Hera tiupkan nafasnya yang beraura negatif dan tersentuhlah nafas itu di dadaku. Aku jadi benci akan segala sesuatu, malam itu semuanya ingin kutinggalkan, kulupakan dan ku akhiri seketika, tiba-tiba Zeus menampar telak keras sekali di pipi “plak…!!! (bunyinya keras sekali)”, di pegang kepalaku dengan kedua tangan besarnya itu, diarahkan mataku ke matanya, lalu berkata “Sadarlah manusia!!”, “jangan mabuk dengan buaian Hera, lawan Ares dengan kekuatanmu meski kau tak temui lagi harimu esok”.
- “Kau kesatria dengan jiwa yang gagah perkasa, kau telah memasuki alam rasa, kau harus bisa keluar dari sini dengan tanpa terluka, karna jika kau terluka disini maka akan membekas lama di alam nyata”. Serentak aku buka kedua mata, ternyata benar hatiku telah terluka terkena anak panah Ares di Alam Rasa, aku kesakitan sampai terbisu dari ucapan.
- Apa ini….? Aku benar-benar tak mengerti, kekuatan Alam Rasa timbul dari satu perkara yang terintegrasi dari situasi sekarang aku alami, aku biarkan diriku masuk dan timbulah kejadian ini hingga timbul luka dan membekas lama. Semua karena aku terlalu memuja dan menghamba pada sebuah perkara hingga akhirnya ak terhanyut didalamnya. Inilah aku kaum manusia biasa yang tak kuasa dan tak berdaya apa-apa, berjalan diatas takdir pun aku masih perlu dipapah apalagi berlari merubah nasib.

Larantuka


- Larantuka ternisbah dari prahara dari dalam relung jiwa, membawa buih – buih duka menciptakan selaksa lara melelehkan airmata, semua tercipta karna sebuah pengharapan pada sesuatu yang maya, sebuah transisi semu menuju nafas terakhirku. Apa yang tersirat ini bukanlah, hukuman, ujian atau karma, Dia sangat sayang pada umatNYA semoga tak pernah terlintas di benakku rasa buruk sangka (suuzon) padaNYA, astaghfirullah hal azim…………………
- Dalam kesunyian yang menghujam kuharapkan setitik embun menetes di tanah-tanah hatiku ini, kening menjadi cangkulku setiap hari agar kelak sebuah benih kan tumbuh disini, kan kusiram dengan peluh serta air mata, ku pupuk dengan lapar (berpuasa), pagi siang sore dan malam kurawat dengan tasbih dan zikir, biar butir-butir kesabaran dan cuaca keikhlasan menjadikan sebuah tanaman pengharapan.


- Ya allah ya tuhan……….. apa ini? Ini adalah pohon surga di tingkat ketiga, dan ini adalah cabang tunasnya yang merambah ditanah dunia, semula aku kan menduga kan tumbuh mawar, anggrek atau kamboja, ternyata pohon ini melampaui apa yang kuduga, kusangka, ku kira.
- Waktu tak bersahabat kali ini denganku….dia membawa keadan dilema kedalam kehidupanku, aku penyair lemah lunglai tak berdaya melawan lajunya yang perlahan namun pasti menenggelamkanku, sakitnya terasa seperti ruh telah sampai tenggorokan, pelahan naik hendak pergi ucapkan salam dengan jiwaku semu serta ucapkan salam pamit perpisahan. Pohon surga menindih dan merambah lahan-lahan disekitarnya, menancapkan akrnya dalam dan menghujam, sementara waktu mengikatku dengan belenggu, mulutku terkatup rapat nafasku terengah seperti kuda pacu dan banyak hal telah berubah ketika dia mencengkeram asaku.
- Selalu aku membeku dalam suhu derajad terendahku menekan amarah dan hawa nafsu, karna disekitarku banyak bara yang membakar aku tak mau lemah menjadi akar, semak dan belukar.
- Larantuka, kucari kebersahajaan hidup dengan menanam cinta bersama benih-benih kasih yang tertiup angin, menuju kelopak bunga, hinggap di dahan dan ranting, oh tidak…… aku ini ternyata masih seperti lilin kecil yang menyala di tangah sahara, cahayaku tak menyinari sekitarku dalam jarak yang luas, justru tubuhku meleleh dan terbakar menjadi asap dan abu, tuk jadi seekor kunang-kunang pun belum sanggup kulakukan itu.
- Sudahlah….. kau tak tahu menahu tentang semua perkara itu, hentikanlah semua bualanmu itu, kau itu tak ubah dan tak ayalnya sebuah batu didasar sungai, diam tak terjamah dan terambah, terkikis oleh arus “KEAKUAN”, fosilisasi jiwa menjadi intan berlian. Kelak cahayamu kan tampak kepermukaan dan keindahanmu menjadi pesona mata dan sorotan, tahanlah derasnya arus yang kencang dengan kesabaran, maka kau akan temukan uluran tangan tuhan.
- Larantuka, setelah tumbuh dan berkembang pohon surga, kini apa lagi yang kau rasa? Apa yang hendak aku tanya? Berkaca…. Mari berkaca… tak ada lagi pertanyaan lagi untuk petani cinta sepertimu, memang sudah menjadi tugasmu bercocok tanam dan kepanasan, petani kok mengeluh……..? hama, alam dan rumput liar adalah halang rintangnya, tapi kau pasti bisa memanennya, jika kau tanam dan rawat dengan sempurna.
- Sang pencipta telah merekam dan menyaksikan setiap kejadian yang terjadi, setiap perih dan keringat yang menetes akan terganti oleh sesuatu yang diluar akal dan imajinasi, percayalah akan terjadi hal itu dikemudian hari, tunggulah masa itu masa transisi dimana awan merekah dan mentari bersinar cerah jadilah insan yang istiqomah dan mutmainah..

Burung merak dihatiku


- Sajak dan syair belum mau berhenti kutorehkan diatas lembaran-lembaran ini, terus mengalir menanti sebuah akhir perjalanan hidup “Maulana al-fakir” , ekstase jiwa dalam sakramen-sakramen hati terpecah dan berpendar bercabang pada pesona burung merak yang keluar elok dari pintu taman surga di tingkat ketiga, membius dan membuai panca indra, menutupi dengan kabut dan menciptakan fatamorgana.
- Aura pikat terpancar dengan sangat kuat mengubah warna sel-sel syaraf dan kelenjar otak kecilku, memikat dan menawarkan asa dengan kekuatan yang maha dahsyat, semoga belum terlambat sebelum hujan mengguyur lebat aku akan melangkahkan kakiku ke arah barat.
- Bejalan telanjang kaki ini menginjak pasir batu dan kerikil, gurun, gunung, ngarai, lembah dan sungai kecil, semua telah kuhafal dengan tartil, di perjalananku ini aku hanya membawa bekal fatwa dan wasiat, status harta aku bergelar mlarat namun memiliki keyakinan dan tujuan untuk dapat makrifat (mengenal allah), meskipun kadang lumut dan air sering membuatku tergelincir, matahari masih melengkingkan senyum manisnya menghangatkanku hingga nafas terakhir.
- Burung merak muncul kala senja menghias langit belahan barat, seolah mengikuti perjalananku namun ia berjalan di depan langkahku, tersibak megar dengan indahnya bulu-bulu elok penuh warna ynag mempesona itu, dari atas kepala tubuh dan ekornya, redup senyuman sang surya kala itu menyapa menambah ia semakin bercahaya. Saat aku menunduk mengaisi bulu-bulu yang jatuh dari badannya tersibaklah sebuah rahasia dari hatiku, yang telah diketahui oleh angin yang terbang ke arah barat, apakah burung merak bisa mendengar angin yang berbisik, sungguh aku sempat menghawatirkan akan hal itu.
- Malam datang aku menggigil di kelapnya gurun, rasi bintang yang bercahaya di langit utara seolah menyapa hendak menemani jiwa yang menggerutu, tentang tingkah laku sang waktu, waktu yang terus berjalan maju membuat ruh-ruh di dalam kalbuku terus berpacu letih kecapaian, lalu cahaya purnama menegur dan bertanya padaku, “hai insan yang menggigil kedinginan, tak hanya ruh engkau yang lelah berpacu, coba lihatlah raut muka ragamu itu? Karna peluh pun mengucur deras dari kening hitammu, bangun dan berjalanlah tak mengapa kau teteskan air mata itu, kita akan bersaksi atasmu di hadirat Illahi Rabbi”
- Ego seperti hantu yang memeluk di balik alam nyata, bisikannya seolah rayap menggerogoti pasak dan tiang akalku, meremuk dan menjadikan bubuk angan dan hayalan semu, memakan saripati keyakinan dan meninggalkan racun ketakutan yang terkadang menjalar di aliran darahku.
- Mimpi seperti bubuk opium yang tehela menjadi candu di otaku, efeknya yang menghilangkan kesadaranku menagih dan meminta dirinya menjadi sentuhan kenyataan dan memberikan obat “Harapan”. Serta permohonan yang terkadang meneteskan air mata doaku.
- Burung merak dihatiku berjalanlah didepanku, jika bulu-bulu itu jatuh dari ragamu kan ku kais ku kumpulkan dalam tasku agar tersimpan bersama bekalku, dan tercatat di lembaran buku amal perbuatanku (lauhul mahfudz).

Bacalah hatiku

- Wahai zat yang menciptakan keindahan, wahai Zat yang maha indah, KAU ciptakan keindahan ini di hatiku yang menghiasi kalbuku dengan segala pernik kilau syahdu, ENGKAU yang tak tergantikan oleh apapun kini mengujiku dengan keindahan lain yang mengusik tidurku, menghiasi malamku dan mewarnai hariku, apakah ini ujian untuku atau petunjuk dariMU, sungguh aku tak pernah tau akan hal itu.
- Aku menjadi mabuk olehnya ya Allah dan ini adalah karuniaMU, aku merindukan ia ya Allah dan ini adalah rahmatMU, aku menginginkan ia ya Allah dan ini adalah kehendaku, dengan cara apa aku menghadapi ini semua, bagaimana aku harus menyikapinya, kemana perasaan ini seharusnya berada, ya Allah terangilah kebodohanku ini dengan cahayaMU agar aku tahu maksud dan kehendakMU.
- Dia yang kupuja dalam hatiku, dia yang kudambakan slalu, semua tentangnya mampu membiusku, mengunci lidahku membuatku diam membeku hingga sampai urat nadiku.
- Habibah tuhan menciptakan kau sempurna dimataku, berkilau di hatiku, mewangi di relung kalbuku, Dia yang maha sempurna menjadikanmu sebagai pecahan kilat kesempurnaanNYA, aku jadi lemah tak berdaya, karena sampai usiaku sekarang aku belum mengerti hakikat sebenarnya cinta.
- Habibah jika tuhan mengirimmu padaku, ketahuilah beberapa hal; kau akan mengalir seperti darah yang melewati jantungku, kau kan menjadi udara yang mengisi paru-paruku, dan kau kan menjadi cahaya yang menjadikan mataku ini mengindra.
- Habibah aku serahkan keinginanku kepadaNYA, aku tak serahkan ini semua ditangan nafsuku, kesucianmu kan memancarkan keelokan seperti teratai di tepi telaga surga dan jika qudrahNYA telah sampai padaku, aku akan tau jawaban atas pertanyaanku, biarkan aku membeku dalam kediamanku dan biar aku terkunci dalam kebisuanku, serta biarkan aku hangus menjadi abu karena perasaan cintaku padamu.


- Habibah nama dan wujud hakikimu telah mengorbit di susunan galaksi hatiku, disana kau-lah mentarinya yang memberi cahaya pada planet-planet kecil di sekitarnya; otakku, pikiran, naluri, ambisi, harapan, angan-angan dan cita-cita berputar mengelilingimu, kau kan lenyap seiring tercabutnya nyawa dari ragaku karena saat itu tiba aku kan kembali pada penciptamu yang Maha Indah dan Maha Sempurna.
- Habibah kini aku menjadi salah satu dari mereka yang gila karena cinta; aku bagian dari Qais “Majnun” yang memuja Laela, aku bagian dari Sulaiman yang mendamba Balqis, hatiku seperti Alexander yang memuja Cleopatra, karena kini aku bagian dari cinta, aku lebur didalamnya, cinta yang luar biasa dari Yang Maha Pencinta.
- Habibah selamat pagi untukmu.

- Habibah mencintaimu takkan pernah ku sesali seumur hidupku, mencintaimu adalah anugerah terindah sepanjang hidupku, aku tahu apa akibatnya ini semua untuku jika mencintaimu, tapi kupandang itu semua sebagi pemberianNYA untuku, aku jadi semakin dekat padaNYA, tiap malam aku merengek dan menangis teteskan peluhku diatas sajadah untuk berdoa padaNYA, aku menangis bukan karena cinta, aku menangis karena betapa aku menginginkan makhluk ini untuk jadi pendamping hidupku.
- Allah befirman dalam kitabNYA, Rosulullah SAW bersabda dalam hadistnya, ulama’ berfatwa dalam ijma’ dan qiyas mereka, pujangga melantun dalam bait syair dan karyanya, aku bersua dalam kabuku “Anna uhubuka illallah” (aku mencintaimu karena Allah) semua itu terdengar hingga lorong-lorong jiwa, mengalunkan lantunan keseluruh raga hingga tercipta syphony yang bersinergi memberi denyut pada hati ini dan mengalir dalam urat nadi, melambungkan asa namun aku sikapi itu semua itu dengan doa dan kepasrahan, karena aku hanya seorang hamba yang hakikatnya terlahir kedunia hanya membawa tangis dan tawa.

- Habibah jika kau dengan jeritan kalbuku yang memujamu maka tersibaklan hijab yang tertutup itu, Jika engkau adalah pecahan tulang rusukku berlayarlah aku menuju ArsyNYA dengan semangat dan dukunganmu, aku dengan segala kekuranganku mencoba tak pernah bertingakah palsu di hadapanmu, agar angin menghembuskan serbuk sari cintaku ke kelopak hatimu.
- Habibah slamat siang untukmu.

- Dear Habibah kutitipkan salam rinduku bersama angin yang melaju kebarat, semoga ketika tetuju disana rahmat dan ridhoNYA ikut menyertai perjalananmu, anggun dan keelokanmu masih terproyeksi di layar otak kecilku, seperti mempresentasikan karunia dari yang maha Kuasa, aku menyimakmu dengan seksama berharap memahami apa makna dari ini semua. Tak pernah ku mengenal waktu yang sering memutar usiaku sejak ku patri namamu di hatiku, kau kan terus berjelaga di kesendirianku, kediamanku dan keterpurukanku.
- Wahai tuhan Yang Maha Sempurna nan bijaksana, lindungi dan rahmatilah ia seperti kau lindungi dan merahmati para kekasihMU, bahagiakan ia slalu dalam gengamanMU, peluk dan belailah ia dengan RidhoMU, ya Allah kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah bisa melihat dia tersenyum slalu, lukiskan senyum yang anggun itu di lesung pipinya yang mempesona, sempurnakan akhlaknya seperti KAU sempurnakan akhlak para aulia’ dan salihin. Dan dekatkan ia padaMU agar kedamaian itu ada di hatinya slalu.
- Wahai penguasa hatiku dan hati seluruh makhluk semesta, jika dunia ini bukan tempat persandinganku denganNYA, sandingkan aku dengannya di bawah arsyMU yang agung dan abadi, karena di sanalah sesungguhnya kebahagiaan itu akan aku raih, buat ia lebih cantik dari bidadari di langit kesatu biar aku bisa bersamanya menuju para nabi dan rosul tuk melihatMU. Amin
- Habibah sempurnalah Hatimu ditangan Penciptamu.



- Aku seperti mendapat kutukan dari penyihir yang menyeretku ke dalam kegelapan, ketika mengetahui kita tidak akan bertemu beberapa hari dalam minggu-minggu ini, tanganku bergetar ketika menulis bait syair ini, mataku berair dan jantungku terpompa dengan kencang, aku harus melewati hari tanpa melihat senyuman di wajahmu, dengan kekuatan apa aku menapaki ini semua, seperti kapal yang berlayar di tengah gurun, aku diterpa panas dan badai pasir yang meremukkanku.
- Kubawa lembaran kalam Allah mushaf indah maha suci Alqur’anul karim yang terjaga hingga akhir kiamat nanti, aku baca dengan harapan kutemukan ketenangan dalam hati dan pencerahan dari Illahi, Habibah bagaimana aku menghentikan laju darahku yang megalir jika engkau adalah darah itu sendiri, bagaimana ku berhenti menghela nafas jika engkau adalah udara yang mengisi, bagaimana aku bisa melihat jika engkau adalah cahayanya, Habibah berkat cintaku ini kepadamu aku semakin terus merengek dan mengemis di hadapan tuhanku yang Maha Segala-galanya, riduku yang menggila padamu membuat nafasku melantunkan asma-asma suciNYA, kerena kepapaanku, karena kebodohanku, karena keterbatasanku, aku harapkan impian tinggi untuk memilikimu.
- Habibah sedang apa kau saat ini, malam yang larut menelanku dalam kelabunya hati, sudah lelapkah kau terbawa mimpi….?. Aku memejamkan mata namun otakku tak mampu berhenti berfikir tentangmu, kegelisahan menghampiriku, kegalauan menyelimuti hatiku, karena ridu, karena cintaku padamu Habibah.

- Dear Habibah dialam bawah sadarku kau semaikan wangi kasturi di taman hatiku, aku bisa memiliki jiwa dan ragamu serta cintamu ketika kupejamkan mataku, kau sambut tanganku dan memelukku dengan penuh hangat kasih, kau panggil namaku dengan manjamu, anganku melambung tinggi seiring doaku padaNYA agar itu menjadi nyata, Habibah adakah sedikit hatimu rasa untukku…? Tak usah kau jawab pertanyaanku biar waktu yang menjawab itu.
- Habibah sayangku aku seperti terhampar di lautan luas yang merasa sangat dahaga ingin meneguk air basahi kerongkonganku, namun air laut tak dapat kuteguk dan masuk ke mulutku, aku begitu dekat denganmu namun menyentuhmu apalagi mendapatkan hatimu tak pernah kuraih itu ditanganku, saat itu hanya rengekan mengemis ku tujukan pada Pencipta lautan agar IA bersedia membantuku dari semua ujian ini.
- Dangkal dan tumpulnya pengetahuanku tentang takdir menyeretku ke titik terendah keputusasaan, namun hatiku terus mengulurkan tangan agar aku bisa tetap di permukaan, keadaan rapuhku rentan akan serangan – serangan ikan predator yang siap menjadikanku santapan dan kudapan mereka, semetara aku terus bertahan dan berharap seorang nahkoda atau anak buah kapal yang melihatku mengambang di permukaan.
- Aku haus akan cintamu Habibah, aku ingin engkaulah yang datang tuk selamatkan aku, Habibah dengarkanlah rintihan hatiku yang terus menyebut namamu.
- Kulihat langit yang terang dan bercahaya penuh bintang dan sinar redup sang rembulan, aku seperti di timang Tuhanku dan di belai seperti bayi, kepolosan dan ketidak mengertianku akan jalan hidupku selanjutnya yang kutempuh membuatku merebah dalam ranjang dan dipan-dipan keikhlasan yang DIA buatkan untukku, semua musuh-musuh mulai megintai dan menyusun sebuah strategi agar aku bangun dari istirahat dan mau berjalan ke tanah tandus kering nan gersang, saat aku terbangun dan membuka mata aku mulai melihat sosok “bani hawa” yang menahan laju kakiku menuruti musuh hatiku, aku masih bersandar di atas dipan-dipan dan duduk di atas ranjang itu, aku terpesona setengah mati lalu aku bertanya pada Tuhanku “Ya Allah siapakah dia yang saat ini hatiku terkunci dari ciptaanMU yang lain?” tuhan belum menjawab pertanyaanku, dan masih membiarkanku dalam terpesona dan kebisuan.
- Malam itu aku tak lagi meyaksikan cahaya bintang dan sayu rendup cahaya purnama, hingga mentari menyapa menggantikan malam aku masih belum beranjak kaki untuk mengagumi, Habibah…. Habibah… Habibah.
- Duhai tuhanku yang maha pengasih lagi maha panyayang, aku tak bisa membohongi hati nuraniku jika aku sangat mencintainya, aku tak bisa menampik perasaan ini kalalu aku sungguh tak bisa jauh darinya barang sebentarpun, tak pernah ku jenuh memohon padaMU atas setiap doa yang kuiringi air mata, agar aku lekas diberikan jawaban atas hal ini semuanya, ya allah betapa sakit dan menyedihkannya perasaan cinta itu, karena cinta sejati yang kuinginkan hanyalah KAMU, kini terbagi dua tak lagi satu seperti yang dulu.
- Duhai ya allah ya tuhanku yang maha indah dan maha elok, aku seperti terbawa arus perasaanku sendiri, aku tak lagi berdiri diatas kedua kakiku, seperti aku telah membuatnya cacat dan tak berfungsi lagi untuk berdiri, kini aku terombang ambing terbawa angin kesana dan kemari, tapi dalam hatiku tanganku berpegang erat kepadaMU agar ketika aku jatuh nanti KAU masih memegangku dan aku tak mendapatkan luka yang parah dan berdarah.
  • Sore hari kudengar kabar Habibah sedang sakit dan tak bisa berangkat untuk belajar, aku tergoncang seperti lonceng yang bergetar karena hantaman balok yang dipukulkan ke arahku, seluruh perasaanku bergetar dan berbunyi tak menentu, aku pun memutuskan tak jadi berangkat untuk belajar dan aku ingin bertamu kerumahnya, aku mandi dan berangkat selepas maghrib dengan niat bulat aku ingin kerumahnya, di tengah perjalanan aku memutuskan untuk membeli oleh-oleh kecil untuk Habibah karena aku tahu dia sangat suka buah Apel. Sesampainya disana aku dapat sambutan hangat dari kedua orangtuanya, mereka menyambutku dengan ramah mempersilahkanku masuk dan memberiku suguhan layaknya sebagai tamu, aku sempat berbincang dan ngobrol dengan ayahnya sebelum Habibah datang dari kepergiannya bersama adiknya.
  • Ya allah, maha suci Engkau dengan segala kerajaanMU, kau buat dia benar-benar sempurna tanpa cela di mataku, aku terhisap lorong pesona yang mengalir dari raganya, aku mencoba untuk tak terhisap terbawa masuk kedalamnya, sesekali aku palingkan mataku dari memandang wajahnya, meskipun arus pembicaraanku tertuju padanya dan dia sedang menyimak obrolanku, aku seperti bertahan dengan erat dari badai cinta yang coba menghempaskanku jauh, aku kurung hatiku malam itu di balik jeruji titanium kedap udara agar getaran badai yang hendak menerobos tak berpengaruh dengan semua itu.
- Seperti senyawa hidrogen clorida yang menyiram ferum, kepadatannya sirna berubah menjadi cair dan menguap menjadi asam, Habibah kau melepukkan hati dan jiwaku menjadi mimpi dan angan yang bergantung hanya padamu, aku harus berdiri setegar karang walau kilat dan badai menghempas dan menghantam palung jiwa, kuserahkan cinta yang menjalar bagai akar ini dalam tangan kuasa Allahuakbar, lantunan pujian dan doa agar kerapuhan ini sirna tersambut jiwa yang bijaksana, Habibah detik-detik waktu yang merubah bulan ke windu, hari ke minggu dan tahun semakin berlalu selalu melantunkan symphony tentang namamu, melody dan harmony bak petikan dawai-dawai harpa dan kecapi menyusup di otakku.
- Habibah kuteriakkan nama itu menggaung di tebing dan jajaran ngarai hingga lenyap tertelan rimbunnya hutan, Habibah kuteriakkan nama itu menggema di padang gurun dan jajaran oase hingga lenyap terhanyut angin.
- Habibah kusampaikan salam sayang dan rinduku pada seluruh penghuni jagat angkasa dengan harapan akan tersampaikan ke relung hatimu yang terdalam ketika waktu ini membuatmu memahami akan hal itu.
- Awan bergemuruh berganti mewarnai langit sebagai kanfasnya menjadi hitam dan kelabu, menutup cahaya keindahan malam, bintang, purnama dan cahaya aurora yang berkilau penuh warna, alam merasakan getaran cintaku yang begitu yang begitu besar padamu mereka seperti ikut terharu menunjukkan ibanya padaku, lewat alunan syahdu bahasanya tak berbbisik namun arah gerak mengisyaratkannya kepadaku.
- Aku menyerahkan langkah-ku dipapah Rabbi-ku, tak kubiarkan nafsu dan keinginan menggantikan langkah mengisi jalan hariku-hariku, rasa ini indah namun menyakitkan, rasa ini nyata tapi tak terlisankan, aku bertahan dengan seluruh gejolak yang tak tertahankan, aku terdiam sunyi dan beku dalam kebisuan, seakan ribuan tarantula hitam menggerayat dari kaki hingga kepala, seakan mamouth jantan menginjakkan kakinya di perutku.

Doa ku untuknya


Bismilahirahmanirahim

Segala puji bagimu ya Allah atas karuniamu hari ini
Segala puji bagimu ya Allah, telah menciptakan taman firdaus di dalam hati
Segala puji bagimu ya Allah, karena cinta yang kau semaikan di atas pengharapan
Segala puji bagimu ya Allah , atas kesempurnaan wujud bidadari dalam qudrah yang suci

Ya allah jika dia tercipta sebagai siti hawa jadikan aku sebagai adam yang disatukan dengan rahmatmu di jabal rahmah.

Pintaku dalam doa…
aku sebagai imamnya dalam bahtera rumah tangga
Pintaku dalam doa…
iman dan takwanya mampu meluruskanku hati dan jiwa
Pintaku dalam doa…
anak soleh dan solehah-ku terlahir dari rahimnya
Pintaku dalam doa…
tangan lembut dan belaiannya memayungi teduh kesucian cinta dalam raga
Pintaku dalam doa…
saat maut datang menjemput aku bisa bersandar di pangkuannya
Pintaku dalam doa…
Rumah bernisanku bercahaya karena lantunan doa yang teruntai dari bibir tipisnya
Pintaku dalam doa…
kita akan bersatu dalam ridhoMU abadi di dalam surga amin…..
Pintaku dalam doa…
Habibah… Habibah… hanya Habibah

PROLOG 2


damainya jiwaku terhantuk hembusan beliung yg berpusara dijiwaku, saat ku berpegang erat dg tnganNYA, pusarn itu menarik kakiku, lusuhlah bajuku, terengah nfasku, dtengah kerapuhanku tangnNYA msih mmegangku, peluhku menetes pilu bersma malaikat yg bertasbih haru. Tiada daya & upaya tanpa ijinNYA wahai ENGKAU yg jiwaku dalam kuasaMU, cukupkan bagiku hnya driMU
Allahu akbar, menyalakan ketegaran dengan api keyakinan, saat nadi & pembuluh darahku menjadi dawai kecapi, hatiku mabuk oleh alunan symphony, telingaku menjadi tuli, mataku tak lagi mengindra, mabuk jiwa yg sesungguhnya diatas rahmat diatas derita, ketika ku terbangun kutemui ruhku dalam keadaan koma, hanya nafaslah yg terjaga tuk terus memuja. kemarilah, mengalirlah biar kurasa biar kukenyam, biar berdarah, setelah ini kan kulihat apa yang terjadi?
Tuhan kumelepas baju ego & jubah keinginanku berjalan tertatih meminta uluran tanganMU, selimuti ak dg kesabaran & belai jiwaku dlm kepasrahan, waktu & keadaan menyati tubuhku tanpa ampun seperti pisau mengiris hati, peluk ak ya rabbi damaikan jiwa dalam rahman & rahimMU.amin
Ak telan, ak lihat, ak dngar & ak rasakan, wahai engkau kepedihan jadilah tenaga yang mengalir dinadiku, bersahabatlah denganku karena setelah aku dibangkitkan kau takan lagi bertemu denganku selamanya. ak telah disunting oleh kebahagiaan.

Fabel


Nasib seekor domba yang hidup di hutan belantara, di selimuti rasa was-was akan bahaya binatang buas yang hendak memangsanya, dia berguman dalam hatinya “ Andaikan aku di gembala seorang yang arif lagi bijaksana”
Malam yang dingin di lalui dengan selimut cahaya sang purnama yang sedang menampakkan pesonanya, siang yang terik dia hadapi dengan jubah bayangan pohon besar tua yang kokoh bercokol meski termakan usia.
Hidup berjalan menusuri reruntuhan dedaunan yang jatuh dari dahan, hutan yang rimbun menghidupinya hingga kini mampu tetap terus bertahan. “aku hendak menemukan padang hijau yang indah semak-semak dan bunga liar bertumbuhan di hamparannya”, ”Setelah kutemukan aku kan hidup diatasnya smapai aku berhenti menghela”.

Cinta sejati hanya untuk-Mu


Aku mungkin hanya sebuah debu hina yang mengotori semesta tapi aku selalu berharap bisa menjadi sebuah permata di singgasana Arsy’MU.
Aku mungkin hanya seekor ulat kecil yang menjadi benalu memakan setiap dedaunan, tapi aku selalu berharap jadi seekor kupu-kupu yang bisa menghisap sari pati keagunganMU.
Aku mungkin haya sebuah selokan kecil yang hanya membawa sampah dan kotoran, tapi aku selalu berharap bisa menjadi sungai nirwana yang menghanyutkan seluruh cinta dalam ASMAMU.
Seperti apapun aku bernilai di hadapanMU jiwaku selalu terbuka menerima keputusanMU, karena cinta sejati hanyalah diriMU, olehMU dan untukMU.

Dia menginginkan-mu


Kau maknai apa persinggahanmu di kedai minuman ini? Hanya seteguk air yang melalui kerongkongan selepas dan sesudahnya tidak ada artinya?
Jangan pandang mereka yang menikmati aneka hidangan dan suguhan memuaskan dahaga dan lapar, istirahat dan menunda perjalanan.
Kau lihat mentari sudah terik menyengat, sebentar lagi sore kan songsong dan malam pun akan kau jalani. KEKASIHmu sudah menunggu dan jangan buat DIA menunggu lebih lama dan lama, karena DIA sungguh sangat merindukanmu.
Kenakanlah jubah usangmu itu yang camping dan kasar, peganglah tongkatmu lanjutkan perjalanan temui DIA, jangan hiraukan panasnya gurun yang membakar telapak kakimu, jangan pedulikan badai yang menghempas ragamu.
DIA ingin bukti cintamu, pejuanganmu dan pengorbananmu, bagiNYA kata-kata itu sebuah hal yang biasa, jangan bersiasat tapi mengalirlah, jangan berargumen tapi berlalulah, jangan berfikir tapi fahamilah.
Dan temukan kecupan manis di keningmu setelah pelukan sayang ketika menyambutmu.

Tak perlu berdalih


Ketika aku berjalan tuk menjemput sang kekasih aku menanggalkan selainNYa demi sebuah pejumpaan utuh. Kerinduan menggumpal hanya tersibak sebuah nama ketika itu yaitu namaNYA,
Kurasakan DIA hadir seperti suara gemuruh kilat yang menyambar kalbuku terdalam, keras menggelegar dan menghujam. Air mataku pun tak terbendung lagi, menetes dalam perjalanan di saksikan makhluk lain di depan dan di tepian.
Cinta ini ternyata tak selembut sutera yang ku sentuh, tak selembut udara yang ku hirup, tak sehening malam yang larut, tak sewangi misik dan kasturi. Logika merintih, menjerit merasakan pedih dan menahan rasa sakit. Cinta mencapai puncaknya hingga yang terasa hanya detak jantungku saja
Namun kalbuku seperti di depan perapian yang hangat, laksana bayi di pangkuan kasih sang ibu, dangkalnya akal berputus asa mencari jalan mencari tunggangan untuk lari dan berpaling. Kepolosan hati mengarahkan pada sebuah titik cahaya yang terang, bahwa KEKASIHku ternyata sangat mencintaiku.
Apa arti kesedihan itu sebenarnya? Jika di balik tembok hijab, sentuhanNYA mampu meraihku, tak perlu lagi ku banyak berdalih, karena kini aku telah bersama sang KEKASIH.

Anggur cinta


Sungguh nikmat anggur cinta yang ku teguk ini, di berikan sang kekasih karena sayang yang begitu dalam, aku pun mabuk lepas ingatan tak sadarkan diri, mati rasa dalam segala cuaca dan keadaan.
Aku sadar telah banyak mengecewakanNYA tapi DIA tetap memelukku dengan erat, aku pun berbuat nista di hadapanNYA namun DIA masih memegang erat tanganku.
Deru air mata haru membasahi relung kalbu, aku merasa seperti mati kutu, diam tak berkutik dan membisu dalam beku. Dibalik kebisuanku tak seorangpun tau, karena semua telah menjadi rahasiaNYA dan aku.
Aku serahkan jiwa dan ragaku padaMU, dan ku abdikan setiap nafasku untuk namaMU. Kelak apapun yang terjadi dan menimpaku di esok hari, akan ku katakan pada semesta alam dan jagad raya bahwa aku sangat mencintaiMU karana hatiku ini hanya milikMU……slalu.

Syukur


Sekiranya aku tak ditegur oleh mulut sang maut, di cambuk oleh kafan, dan di perlihatkan 2 buah nisan mungkin nafsu dan syaitan telah manjadikanku sebuah koloni berkoalisi menentang ilahi.
Sekiranya rambutku di jadikan kuas dan darahku menjadi tintanya untuk menuliskan kalimat syukurku padaMU niscaya tak kan pernah cukup membalas semua rahmat dan kasihMU yang telah KAU berikan padaku meski aku diahirkan seribu milyar kali kehidupan.
Gerbang kubur terbuka lebar di hadapanku maut menunggu perintah untuk menjebloskanku kedalamnya hingga waktu yang sangat lama
Wahai jiwa mengapa masih saja kau sibuk bermain dengan dunia, sekiranya cukup banyak tutur sang alam memperingatkanmu.
Berceerminlah……!!! Lihatlah hatimu…….!

senandung alam tentangmu


Debu merangkak bersama angin yang berlari membentuk beliung yang berpusara di rongga sang jiwa, dia membawa bibit- bibit wangi teratai dari timur yang kini tumbuh di atas telaganya, embun pagi membuka kelopaknya pelahan, oh…. Sungguh anggun dan wangi… sungguh elok mempesona.
Semua singgah dan bernaung di sekitarmu, tenang dan damai di sampingmu, tak heran Kwan im menjadikanmu singgasana kasihnya, seperti terpaku oleh Flasher permanen di dinding, sulit bagiku mencampakkanmu begitu saja dari hidupku, karena hadirmu memberi warna, keindahan, dan wangi dalam jiwa.
Suatu hari Stratous dan columbus yang hitam pekat memuntahkan isi perutnya di atasmu, datang membawa kedua sahabatnya sang kilat dan guntur. Saat itu pula kedua sahabatku akan memuntahkan cintaku padamu.

cinta objektifitas dalam benak-ku


Keelokan zakut, Rugby, emas, intan dan permata telah di pamerkan di aula persemayaman jiwaku, semuanya hanya ingin menunjukkan eksistensi objektif dalam benakku, sebuah penilaian bahwa itu indah, anggun dan mempesona.
Hatiku berubah menjadi jingga sejak keindahanmu pelahan namun pasti beranjak meninggalkanku, aku tak tau apa yang terjadi padaku, seperti kapal yang menanti ajal di hadapan badai, terombang ambing tinggal menunggu waktu karam .
Begitu berartinya kau bagiku, seperti mulai tersibak semua tirai kemunafikanku bahwa aku sangat membutuhkanmu tuk slalu disisihku, bahwa aku ingin slalu dalam pelukan hangatmu, semua keindahan itu, ya….. semua itu tak mampu menggantikan setitik cinta yang pernah kau goreskan dalam hatiku,
Aku sadar dan faham akan keberadaanku menilai apa itu makna cinta. Namun aku bodoh dan tumpul untuk membaca aksara takdir, karena secuil akal ini hanya bisa menterjemahkan sebuah kata “Aku slalu Mencintaimu”.

Selamat malam bungaku

Dengung kepakan kumbang membawa serbuk sari keindahan dari bunga yang bersemi di hatiku, terbang di bawa pergi bersama hembusan angin dari barat ke timur, di saksikan ribuan malaikat di alam makrifat.
Kubah langit yang megah sebagai naungan asaku dan pasir gurun yang berkilau silau menjadi tumpuan nafasku. Aku sadar bahwa kerapuhan adalah pakaianku yang selalu menyelimuti, kealpaan adalah jabatanku di majelis Rabbi, Kefakiran adalah singgasana yang selalu kududuki di muka bumi.
Mungkin hanya menjadi igauan semu, aku kan tertambat pada bunga dalam mimpi-mimpi malamku, karena kelopakmu telah tertutup dan hujan pun mulai turun menjatuhkan ragaku kembali ke tanah. Selamat malam bungaku selamat tidur.

kosong

Lelah aku seharian menggarami lautan siang dan malam melukis di atas air menghabiskan waktu membangun istana pasir di tepi pantai.
Ketika aku asyik dengan itu semua, ikan-ikan tertawa, kerang dan siput menegurku agar sadar dari lamunanku, bintang rembulan menyaksikan tingkahku terdiam membisu sementara cahaya auroroa tak pernah jemu mewarnai malamku.
Aku terlalu banyak menghayal hingga orang menyebutku pemimpi, aku mematikan akalku demi perbuatanku namun tanganku tak pernah berhenti bersyair menegurku menyadarkanku agar aku terbangun.
Tuhan yang maha adil menggariskan takdirku namun seolah aku tak terima itu dengan menggerutu, karena nafsu telah membunuh akalku kini aku tak ubahnya dengan makhluk bersel Satu.
Aku lapuk seperti mentega, hatiku ini sekeras baja namun sebening permata, lapuk dalam asa, keras menuntut ego, bening tertrawang cahayaNYA, kompleksitas makhluk unik di muka bumi dari keturunan adam bernama manusia, yang terlahir dari rahim wanita sahaya.

keluh ketika bercermin

Entah rangkaian kata apalagi yang kan kulantunkan untuk melukiskan perasaan kalbuku. Engkau bukan seperti sosok kekasih yang lain, mendarah, mendaging dan bercokol kuat dalam raga, pikiran dan ruhku.
Sesungguhnya aku menyadari betapa lemah sosok raga yang menggoreskan tinta ini menjadi sebuah guratan, sesosok raga yang merasa memiliki seorang kekasih yang hakikatnya bukan miliku tapi milikNYA, Sesosok insan lemah yang selalu merindu dan mencinta meski dia yang dirindu dan di cinta tak pernah merasakan hal serupa.
Aku menertawai diriku sendiri ketika bercermin di telaga Al Maula Azawajalla, tersadar bahwa aku jauh dari kesempurnaan, tertidur dan mabuk dalam kefanaan dunia yang melalaikanku, yah…. Inilah aku cucu adam yang harus menyerah dalam kuasa takdir pencipta.
Becokol dalam kalbuku dua buah yang kubu yang berseteru, berperang saling pukul dan membunuh datu dengan yang lain. Ragaku yang lemah di jadikan meraka sebagai medan perang berdarah tuk memperoleh kemenangan dan berebut kekuasaan.
Sampai kapan perang ini kan usai..? ketika kutanyakan itu pada sang waktu dia hanya diam membisu, peluhku menetes menahan rasa sakit yang kian menghujam dalam, lelah semakin menyeratku dalam keputusasaan.
Berlari ku menapaki langkah ke utara hingga ke selatan, ku kepakkan sayapku dari timur hingga ke barat, mencari pertolongan mengais puing-puing jawaban, untuk ku makan dan kucerna dalam kalbuku yang kelaparan.
Hanya itu yang bisa kulakukan, karena aku tak punya sebesar biji atom kekuasaan, karena skenario telah di tulis sang sutradara dan aku hanya seorang pemeran figuran, ketika nafas telah terhenti menghela, di saat itu aku baru mengetahui cuplikan tayangan hidupku, disaat itu pula sang sutradara akan menilai semua peranku, seperti apa rapor nilai untukku…..?

Selasa, 07 Juli 2009

soft opening

Sejauh mana kau faham dan mengerti untuk memahami arti sebuah cinta…? Sungguh akalmu telah terselimuti kabut yang hitam dan pekat sehingga kamu belum bisa mengerti dan faham akan itu semua.
Belajar dan bertanyalah kau pada semesta pada batu yang diam membisu atau pada air yang gemericik mengalir, diam renungkan dan cernalah dalam hatimu sehingga akan nampak padamu hembusan dan cahaya itu sendiri, bukan sebuah kealpaan dan kesemuan yan kini bercokol di akal pikiranmu.
Cinta adalah yang membuatmu hidup karena adanya cinta kau sanggup berdiri dan bertahan dari keterpurukan.
Cinta adalah yang membuatmu kuat karena dengan adanya cinta kau sanggup berdiri dan bertahan dari keterpurukan.
Cinta adalah yang menyelamatkanmu karena cinta yang memapahmu dari kejahiliahan akal menuju kesadaran seorang insan.
Bukanlah itu sebuah cinta jika dia membunuh akal dan nurani tapi sebuah nafsu dan perbudakan yang menyesatkan.
Bukanlah itu sebuah cinta jika melemahkanmu dan menjerat dalam keterpurukan tapi sebuah penganiayaan dan pemerkosaan jiwa dalam hakikat insan yang begitu mendewakan kesemuan.
Bukanlah itu sebuah cinta jika dia mencelakakanmu dan menghadirkan mudharat padamu, tapi sebuah bisikan halus Izazil yang mengalir di pembuluh nadimu, memapah dan menuntunmu tuk mendapat murka dan amarahNYA.
Tuhan……aku merasa dunia begitu menyesakkan semua keindahan dan kenikmatan begitu memabukan, aku ingin segera menikmati perjumpaan, merasakan keabadian dalam peluk dan buaian ZatMU yang maha menentramkan.

PROLOG

This is just scratch the arm of soul which is stand in the curve of heaven, as far as the eye glance up, consider to illusion, desire and pleasure, but in the back brings million burden. “That is the romance of life”. Not only luster of diamonds shining brightly but also the fog thickened stays cut of the eye sight.
Soul……. Lie down you in peace, leaned against the submission. Remember someday when everything will go to be counted on, there aren’t scream and groan achieved cause everything shall to put on scales.
To whom you ask, to whom you beg, to whom you complain, what will you informed.
Anything that reflected in the retina and cornea is transitory because mind dissolves all until become stumped. But anything that reflected in heart is alight cause inner self which guided until become correctness.